Oleh Asri Supatmiati
(Penulis Buku “The World of Me”)
Mendengar istilah dijodohin, pasti sebagian kamu-kamu langsung negatif thinking.Maklum, perjodohan sering diidentikkan ama beli kucing dalam karung. Padahal, dibanding pacaran, justru perjodohan ini yang kudu dilestarikan. Lho kok?
Ortu Berperan
Jangan salah, perjodohan sebenarnya justru cara yang Islami menuju gerbang pernikahan dibanding nyari jodoh sendiri melalui aktivitas pacaran. Udah sering banget kita bahas and kamu juga pasti mafhum, pacaran itu bukan konsep Islam buat nyari jodoh. Banyak aktivitas dalam pacaran yang melanggar hukum syara, seperti pandang-memandang dengan syahwat dan khalwat (dua-duaan). So, sekalipun dalihnya untuk PDKT, pacaran tidak dibenarkan dalam Islam.
Emang, masyarakat sering memandang sinis, bagaimana bisa merid dengan orang yang nggak kita kenal sebelumnya? Seperti membeli kucing dalam karung dong! Akhirnya dilegalkanlah aktivitas pacaran dengan dalih sebagai ajang penjajakan, saling kenal dan menyelami pribadi masing-masing. Padahal, lama enggaknya pacaran nggak ngaruh ke pernikahan. Liat aja, nenek-kakek atau ibu bapak kita dulu, mereka rata-rata juga kagak pacaran tapi bisa langgeng. Sebaliknya, artis yang udah pacaran 5 tahunan, waktu merid justru cuma tahan 5 bulanan. Iya, nggak?
Mangkanya, buat PDKT alias mengenal satu-sama lain, nggak musti lewat jalur pacaran. Trus gimana? Di sinilah orangtua berperan. Yup, sebagai anak gadis yang belum merid, kita masih berada dalam tanggungjawab ortu. Maka, salah satu tugas orangtua adalah mencarikan jodoh buat anak gadisnya. Jadi, kalo ada ortu yang berbaik hati mencarikan jodoh, jangan ditolak mentah-mentah. Malah bersyukur dong ada ortu yang pengertian he..he..
Teknisnya gimana? Supaya kamu punya bayangan, bisa aja ortu (atau siapa aja yang menjadi ‘perantara’ perjodohan) sebelumnya menceritakan berbagai informasi seputar si ikhwan. Mulai usianya, latar belakang keluarganya, tingkat pendidikannya, pekerjaannya, dlsb. Bahkan yang terpenting bagaimana pemahaman agama dan akhlaknya. Dengan demikian, kamu bisa mendeskiripsikan apakah memang ikhwan itu memenuhi kriteria yang diyariatkan Islam atau tidak. Kemudian dilanjutkan dengan temu darat alias ta’aruf. Ortu kamu mempertemukan kalian berdua. Biasanya ta’aruf sebatas untuk saling mengenal penampakan fisik masing-masing. Nah, kalo dari temu darat itu kamu tampaknya no problem, dianya juga oke, baru ke tahap khitbah. Ikhwan menyatakan meminta (melamar) kamu buat jadi calon pengantinnya. Gitu ceritanya dan seterusnya. Nah, dengan cara gini berarti nggak seperti dugaan kebanyakan orang, perjodohan itu identik dengan beli kucing dalam karung. Soalnya kalian udah saling kenal, kan? 
Hak Anak Gadis
Tentu saja, konteks perjodohan di sini harus Islami. Maksudnya, landasan menjodohkannya adalah aqidah Islam, bukan yang lain, semisal azas manfaat. Nggak kayak di sinetron-sinetron itu lho, anak perempuan dijadiin agunan ortunya. Pas nggak bisa bayar utang, jadilah anak gadisnya buat bayaran, yakni kudu nikah ama si orang kaya itu. Jadi, azas perjodohannya manfaat belaka. Karena calon menantu atawa calon besannya tajir, anak gadisnya jadi korban.
Jadi, ketika ortu menjodohkan anak perempuannya adalah demi semata-mata menjalankan tugasnya sebagai orangtua untuk mempermudah anaknya menemukan jodoh. Dalam hal ini, ortu sebatas bertindak sebagai perantara alias MC (mak comblang) aja. Maksudnya, ortu nggak berhak maksa ke si anak agar bersedia menikah dengan pilihannya itu. Benar bahwa ortu punya kewajiban mencarikan jodoh anaknya yang sudah layak nikah, tapi diterima atau tidak adalah hak si anak.
Mungkin saja menurut kaca mata ortu si ikhwan udah perfeck banget, misal materi berkecukupan, usia udah matang, dari keluarga baek-baek, akhlaknya juga elok, tapi tetap keputusan berada di tangan anak gadisnya. Jadi sekali-kali ortu nggak berhak maksa. Dalam hal ini anak tidak bisa disalahkan atau dianggap durhaka hanya karena menolak ria pilihan ortunya, tentunya jika alasannya syar’i. Sebab yang akan menjalankan pernikahan si anak, jadi ortu nggak berhak memaksa. Sekalipun begitu, sebagai anak perempuan yang berbakti, jika memang ikhwan yang ‘disodorkan’ ortu adalah laki-laki yang sholeh, tidak selayaknya untuk ditolak. Bahkan Insya Allah akan mendapat pahala karena mampu menyenangkan hati orangtua.
Yang pasti, jangan kayak tragedi Siti Nurbaya yang dipaksa merid ama Datuk Maringgih. Doi terpaksa melakukannya, padahal dalam hati Siti Nurbaya sudah punya pilihan laen.
Kalau antara anak dan ortu punya standar penilaian yang sama, pasti urusan perjodohan bisa lebih lancar. Maksudnya, nggak bakalan terjadi pemaksaan kepada si anak, atau sebaliknya penolakan dari anak ke ortu. Sebab hal ini sering menjadi problem tersendiri. Di sisi lain ortu pengin membantu anak menemukan jodohnya, di sisi lain si anak merasa haknya dilangkahi sehingga cenderung melakukan penolakan. Ujungnya si anak dicap durhaka gara-gara anaknya menolak dijodohkan dan seterusnya.
Padahal kalo sama-sama paham bagaimana kriteria calon suami, tentunya nggak bakalan terjadi seperti itu. Lalu apa kriterianya? Jelas, yang baek agamanya, yakni orang yang sholeh dan tidak berbuat maksiat. Sebisa mungkin yang ngerti Islam, bahkan nggak sebatas sebagai agama ritual, tapi juga agama yang mengatur seluruh aspek muamalah. Gampang kan? (*)
Kriteria Memilih Jodoh:
Pertama, agama. Ini seh kriteria yang kagak bisa ditawar lagi. Nyari pasangan hidup emang kudu berlandaskan kesamaan aqidah. Bukan saja karena Allah SWT melarang wanita menikah dengan laki-laki non-Muslim, tapi juga karena dengan landasan aqidah inilah biduk rumah tangga dibangun. Seorang istri punya kewajiban taat pada suami. Maka itu, suami kudu tipe orang yang layak ditaati, yakni yang bertakwa, sholeh, memahami kewajiban terhadap istri, dll. Suami yang sholeh tahu cara memperlakukan istri dengan makruf.
Kedua, latar belakang keluarga. Kamu juga kudu tahu kira-kira bagaimana latar belakang keluarga si ikhwan, apakah dia keturunan keluarga baek-baek, atau sebaliknya. Bisa aja ikhwan itu mungkin memang orang yang sholeh, tapi keluarganya ternyata non-Muslim, tidak welcome ama kamu mungkin gara-gara kamu berjilbab, atau keluarganya pelaku tindak kriminal. Bukan apa-apa, merid itu bukan saja kamu menikahi si ikhwan, tapi juga ‘menikahi’ keluarga besarnya. Nggak enak kan kalo kamu nanti nggak diterima di keluarga besarnya, suami masih terpengaruh keluarganya yang punya adat kebiasaan buruk, dll. So, dengan tahu latar belakang keluarganya kamu bisa nyiapin jurus-jurus bagaimana menghadapi mereka. Itu juga kalo kalian benar-benar berjodoh.
Ketiga, pendidikan. Boleh-boleh aja kamu mengharapkan calon suami yang punya pendidikan lebih tinggi dari kamu, punya titel di depan dan di belakang namanya, atau minimal sebanding. Misal kamu lulusan SMU penginnya dapet suami D3 atau malah sarjana. But, nggak usah muluk-muluk. Toh tingkat pendidikan bukan jaminan bagi kelanggengan kehidupan rumah tangga, meski bukan berarti hal yang nggak penting. Jenjang pendidikan sama atau yang laki lebih tinggi bukan jaminan keluarga akan utuh, asalkan kedua belah pihak bisa saling mengimbangi. Yah, minimal soal wawasan bisa sebandinglah, jangan terlalu njomplang. Bersyukurlah kalo dapet ikhwan yang pendidikannya lebih tinggi. Sebaliknya, kalo kamu dapet suami yang tingkat pendidikannya lebih rendah, juga jangan sombong dan meremehkan.
Keempat, kesehatan. Rasulullah SAW menyukai pemuda-pemuda yang sehat dan kuat. Makanya, nggak ada salahnya faktor kesehatan ini jadi pertimbangan. Bukan apa-apa, sekarang kan banyak penyakit yang mengerikan semisal AIDS. Bukan tak mungkin lho, cowok baek-baek terinveksi ini. Mungkin melalui jarum suntik yang ngga steril saat dia berobat, turunan ortunya, atau karena masa lalunya yang suram (Hii…syerem). So, nggak ada salahnya kok kamu nanyain masalah kesehatannya, apakah punya gangguan kesehatan yang bersifat permanen, seperti asma, kanker, diabetes, dll. Itu juga kalo dia mau ngasih tahu, nggak perlu maksa. Yang jelas, dengan tahu riwayat penyakitnya, kamu juga bisa nyiapin diri kalo-kalo kalian emang bakal ‘jadian’. Setidaknya kalo suami kamu nanti pas kambuh kamunya nggak bakalan kaget ngadepin. Istilahnya, sedia payung sebelum hujan.
Kelima, fisik. Ukuran seperti wajah yang cakep, mata yang tajam bak burung elang, hidung mancung, rambut bebas ketombe, badan atletis, dll, itu mah bukan jaminan kebahagiaan. Apalagi berat badan, tinggi badan, lingkar badan, lingkar pinggang, panjang lengan (mo njahitin baju apa merid?). Itu semua hanya pelengkap. Bukannya nggak boleh bercita-cita punya suami seganteng Nicholas Saputra (buat perbaikan keturunan neh!), tapi syarat nomor 1 kudu terpenuhi dulu. Yang jelas, kalo kamu punya suami caem, risikonya juga gede, siap-siap jealous. Iya dong, pasti banyak cewek-cewek iseng yang suka ngelirikin he..he…
Keenam, materi. Termasuk salah satu kesiapan menikah adalah maisyah alias materi. Kamu kudu pertimbangkan, apakah calon Mas Johanmu udah punya sumber penghasilan tetap. Bukan berarti harus kerja kantoran, jadi eksekutif atau bos, yang jelas punya sumber penghasilan buat menafkahi kamu. Bukan apa-apa, kadang karena saking ngelontoknya pemahaman ‘rejeki itu kan dari Allah SWT’ dan melihat ikhwannya udah TOP agamanya so pertimbangan materi diabaikan. Kalo udah kadung jatuh hati ama ikhwannya, modal nikah cuma cinta pun jadi. Padahal, rumah tangga ngga hanya dibangun berlandaskan cinta, Non!
Kalo udah merid, biasanya yang kepikiran itu bukan melulu masalah romantisme berdua, yang ada di benak tuh gimana biar kompor dapur tetep ngebul, gimana biar punya rumah and nggak jadi ‘kontraktor’ terus-terusan, gimana biar bisa keluar dari PMI (Pondok Mertua Indah), gimana bisa nabung buat pendidikan anak-anak kelak, dll. Hanya perlu diingat, ukuran materi ini jelas beda ama pandangan masyarakat kebanyakan (para kapitalisme itu tuh!) yang menganggap pemuda yang siap merid itu hanya yang udah punya jabatan mantap di kantornya, pengusaha sukses, udah punya rumah sendiri, mobil mentereng, dll.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here