Oleh Asri Supatmiati
(Penulis Buku Indonesia Dalam Dekapan Syahwat) 

Percaya nggak percaya, profesi sebagai ibu rumah tangga sekarang kurang diminati lho. Buktinya, nggak sedikit kaum hawa yang ogah merid. Bukan karena nggak ada jodoh, tapi emang bertekad melajang. Kalaupun merid, emoh ngurus rumah dan bahkan enggan punya anak. Pertanda modernisasi?

Rayuan Feminisme
Kamu tahu yang namanya emansipasi ‘kan? Itu loh, gerakan yang menuntut disamakannya perempuan ama laki-laki. Dengan dalih perkembangan zaman, kemajuan dan modernisasi, para pendakwah emansipasi getol memperjuangkan persamaan derajat perempuan dan laki-laki dalam segala bidang. Nah, gara-gara emansipasi itu tuh nggak sedikit perempuan yang lupa ama kodratnya sebagai wanita. Misalnya kodrat untuk menikah, melahirkan, menyusui dan mendidik anak.
Mereka berfikir, kalo laki-laki nggak hamil, wanita juga berhak dong untuk menolak ‘dihamili’, meski oleh suaminya sendiri. Laki-laki nggak menyusui anak, wanita juga berhak menolak memberikan ASI. Sebaliknya, kalo laki-laki jadi direktur, pilot, petinju, dst, wanita juga boleh. Begitu seterusnya. Nah lho, kebablasan banget kan?
Seperti penulis buku Ayu Utami. Beliau itu salah satu perempuan yang pernah memproklamirkan diri nggak mau merid. Menurutnya wanita juga sah-sah aja untuk memilih apakah mau punya anak apa nggak. Bahkan menurutnya, hubungan seks tanpa ikatan oke-oke aja asal tanpa paksaan. Astaghfirullah.
Bayangin kalo semua wanita nggak mau merid, nggak mau melahirkan dan lebih memilih hidup tanpa ikatan, mau jadi apa dunia ini? Bisa-bisa musnah deh makhluk yang namanya manusia karena nggak ada regenerasi. Betul kan, Sobat?
Padahal, udah jadi kodrat wanita untuk jadi istri, hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak. Nggak usah protes, itu emang udah dari sononya. Nggak usah minta disamakan dengan laki-laki, karena dilihat dari sudut pandang manapun tetap beda. Secara fisik, bentuk tubuh dan ‘onderdil’ di dalamnyapun beda. Wanita dilengkapi organ seperti rahim untuk mengandung, kelenjar susu untuk memproduksi ASI, dll. Sementara laki-laki nggak.  Jelas beda kan?
Wanita juga lebih perasa, lebih lemah lembut dan penyayang. Sementara laki-laki lebih kuat fisik dan mentalnya. Dengan masing-masing kelebihan dan kelemahan itulah, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan hidup berdampingan, saling berkasih-sayang, saling melengkapi. So, nggak usah dibikin sama. Bisa berabe. Kebayang nggak sih kalo di dunia ini laki-laki semua atau sebaliknya wanita semua. Pastinya sih garing banget gitu loh!
Makanya, jangan kebujuk rayuan ide feminisme deh. Itu mah nggak ada rumusnya dalam Islam. Toh Islam dah jelas-jelas mengatur hak dan kewajiban kaum adam dan kaum hawa masing-masing. Lagian, Allah SWT nggak menilai seseorang dari jenis kelaminnya kok, tapi dari ketakwaannya. Jadi, terima aja kodrat kamu sebagai wanita yang kelak ketika merid, kudu hamil, melahirkan, menyusui, ngurus rumah dan mendidik anak.

Asyiknya Jadi Ibu
Saat ini, kamu-kamu pasti belum kepikiran gimana kalo jadi ibu. Maklum seh, usia kalian masih pada muda-muda. Tapi jangan salah, justru menyiapkan diri buat jadi ibu kudu dimulai sejak masih muda. Biar nggak terkaget-kaget gitu loh! Toh jadi ibu kan termasuk masa depan kamu yang sangat jelas.  Lagian, siapa tahu kamu dapat jodohnya pas usia muda, misal lulus SMA atau pas masih kuliah (asyik nih!). Bukan apa-apa, kalo udah merid, jadi istri dan ibu bukan perkara mudah lho, meski juga nggak sulit. So, nggak ada salahnya kamu mempersiapkan diri bagaimana kiat menjadi ibu (baca di boks ya!).
Yang pasti, begitu merid status kamu berubah jadi istri sehingga konsekuensinya tugas dan tanggungjawabmu juga bertambah. Kalo dulu sorangan bisa semau gue, sekarang nggak lagi. Kamu punya tanggungjawab beresin rumah, ngatur keuangan, menyiapkan hidangan, dll. Berat? Mungkin. Tapi itu semua akan terbayar dengan kebahagiaan tiada tara ketika suami tercinta (ehm…ehm..) tiba, menemani makan, mengajak bercengkerama berbagi suka-duka. Deuh…kebayang nggak sih! 
Trus kalau kamu hamil, mungkin akan mengalami masa nggak enak makan, nggak enak tidur, dst. Belum lagi saat melahirkan, tentunya kudu siap mempertaruhkan nyawa. Eit…jangan takut. Itu semua bakal terbayar dengan kebahagiaan ketika si buah hati dah lahir. Yup, bayi mungil, yang kemudian tumbuh jadi balita yang lucu, adalah anugerah terindah dari Allah SWT bagi seorang ibu. Dijamin bikin hidup lebih hidup! Nggak percaya? Coba aja!
So, jangan ngebayangin sakit dan repotnya aja ya. Insya Allah kalo semua kewajiban sebagai istri atau ibu kita laksanakan dengan ikhlas, sabar dan tawakal, akan jadi ringan dan membahagiakan kok. Bahkan nilainya nggak tergantikan oleh apapun. Sarah Sechan yang mantan VJ MTV aja, menikmati banget peran barunya sebagai ibu. ”Lebih nikmat dari jatuh cinta, lho,” begitu pengakuannya. Maia Achmad yang pentolan Ratu juga gitu. Doi menikmati banget nikah muda. Kini, di usianya yang baru 28 Maia udah punya tiga anak dan masih cantik. ”Hidup saya sudah komplit, punya suami yang baik dan anak-anak yang lucu,” ungkapnya bahagia. Belum lagi si cantik Cindy Fatikasari yang merid usia muda dan juga udah dikarunia tiga jagoan. ”Ngapain nyesel nikah muda, justru banyak enaknya kok,” katanya. Nah, salah besar kan kalo wanita menolak perannya sebagai istri atau ibu.
Makanya, ketika predikat itu udah disandang, jangan sekali-kali melalaikan urusan rumah tangga. Mengurus rumah, melahirkan dan mendidik anak adalah tugas kodrati wanita yang membahagiakan dan tak bisa tergantikan dengan apapun. Memang, selain ngurus rumah, suami dan anak, kamu juga punya kewajiban lain yang nggak bisa diabaikan seperti menuntut ilmu dan dakwah. Yah, pintar-pintarnya kamu aja gimana memenej waktu dan energi. Insya Allah peran sebagai istri, ibu dan daiyah akan menjadi ladang pahala untuk mencapai derajat takwa. Jadi, enjoy aja lagi!(*)

Menyiapkan Diri Jadi Ibu

Sttt, nggak terlalu dini kok ngomongin soal kiat-kiat menjadi ibu meski kamu masih belum kepikiran buat merid. Yah, dikliping aja, siapa tahu sewaktu-waktu kamu butuh he..he.. Iya dong, datangnya jodoh itu kan nggak disangka-sangka. Mana tahu tiba-tiba ada ikhwan melamarmu (suit…suit…). Jadi kalo udah siap-siap kan nggak kaget. Dan memang, banyak persiapan sebelum menjalani peran baru pasca merid itu. Misalnya:
1. Perkaya ilmu dan tsaqofah. Mumpung belum merid, rajin-rajinlah menuntut ilmu. Terutama perkuat tsaqofah Islam dan Bahasa Arab. Belum tentu pas kamu udah merid akan seleluasa sekarang buat ngaji. Paling nggak konsentrasi bisa terpecah karena urusan rumah dan dakwah. Jangan berfikir ah…ntar aja belajar ama suami. Nggak jamin Non bakalan sempet belajar bareng, apalagi kalo dah punya anak. Termasuk yang kudu kamu pelajari adalah hukum-hukum Islam seputar hak dan kewajiban kamu sebagai istri dan ibu. Misal gimana patuh ama suami, gimana mendidik anak, dst.
2. Perluas wawasan terkait dengan teknik-teknik ngurus rumah tangga dan tetek bengek urusan merid. Misalnya teknik mengatur keuangan, teknik berbelanja, teknik menyenangkan suami, teknik mendidik kemandirian anak, teknik berkomunikasi dengan anak, atau trik menghadapi ipar or mertua. Malah kalau perlu belajar memasak.  Caranya, bisa baca buku, surfing di internet atau nanya pada mereka yang udah pengalaman. Nggak usah jauh-jauh, ibumu juga bisa jadi tempat bertanya. Nggak usah malu.
3. Belajar memenej waktu. Mulai sekarang kamu kudu pintar-pintar bagi waktu, buat latihan. Misalnya kalo kamu sering nunda-nunda nyuci baju karena sibuk ngaji dan dakwah,  mulai sekarang stop kebiasaan buruk itu. Sebaliknya, jangan pula abaikan urusan ngaji dan dakwah gara-gara sibuk nyuci, masak atau beresin rumah. Keduanya harus imbang gitu loh!
4. Siap mental. Jadi istri atau ibu kudu siap menghadapi berbagai kemungkinan. Seperti ketika tiba-tiba keuangan keluarga seret, belum dikasih keturunan, dll. Bukan nakut-nakuti, hanya antisipasi aja.
5. Memperkuat nafsiah. Menjadi ibu berarti siap jadi teladan anak. Sebab setiap polah tingkah kita akan ditiru si kecil. Nah, kalo ibunya berlaku baek, Insya Allah anak akan jadi soleh dan solehah.
6. Melunakkan hati. Seorang ibu dituntut memiliki perasaan lembut, penyayang, sabar, empati dan pengertian.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here