Oleh Asri Supatmiati
Penulis Buku The World of Me 

Cewek matre…cewek matre…
Cewek matre…cewek matre…ke laut aje…
Penggalan lagu rap di atas pernah ngetop tahun 90-an. Tuh lagu sarat banget dengan sindiran buat cewek-cewek yang konon katanya doyan duit. Yup, cewek mana yang nggak ijo matanya ngeliat rupiah? Ngelirik cowok aja, yang pertama diliat bukan sekadar tampangnya, tapi isi dompetnya. Wah! Apa bener semua cewek kayak gitu?
Susi mengaku nggak masalah kalo cewek dibilang matre. “Gimana ya, mereka tuh kebutuhan buat belanjanya memang lebih gede ketimbang cowok. Kalau cowok kan nggak harus fashionable, beda sama cewek. Wajar dong kalo butuh duit lebih banyak,” ujarnya ketika ditodong Sobat Muda. Ia mencontohkan, para ABG-ABG cewek aja, udah pasti lebih doyan belanja pernak-pernik dibanding ABG-ABG cowok. “Perlengkapan cewek kan lebih banyak, jadi butuh banyak duit,” kata ABG abu-abu putih ini.
Ela justru komentar lain. Menurutnya, nggak semua cewek bisa dicap matre. “Kalau memang materi itu untuk kebutuhan dia, ya nggak bisa dibilang matre. Tapi kalo sekadar buat hura-hura, baru tuh namanya cewek matre,” katanya. Ia mencontohkan seorang ibu rumah tangga yang minta uang belanja kebutuhan keluarga, itu nggak bisa dibilang matre. “Beda kalo ibu-ibu itu mintanya berlebihan, misalnya buat beli barang-barang mewah seperti perhiasan atau baju-baju mahal, nah itu baru matre,” katanya. Setuju?!
Tergantung Pola Pikir
Matre nggaknya cewek, sangat tergantung pola pikirnya. Makanya, cap cewek matre itu sebenarnya hanya mitos. Soalnya, nggak semua cewek bisa dibilang matre. Kebanyakan cewek sekarang jadi matre karena pola pikirnya udah teracuni sama ideologi kapitalis. Itu tuh, ideologi yang mengedepankan kebahagiaan materi sepuas-puasnya. Menurut ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan ini, materi dianggap sebagai satu-satunya tolak ukur kebahagiaan. Makin banyak punya materi, makin bahagialah dia.
Ideologi ini juga mengajarkan gaya hidup (life style) yang selalu mengikuti perkembangan zaman. Kepribadian seseorang hanya diukur dari penampilan fisik. Nah, untuk menunjang penampilan fisik yang oke, dirancanglah berbagai produk. Siapa yang mengikutinya kudu punya modal besar, karena kalau tidak akan ketinggalan zaman. Misalnya mode rambut atau sepatu, tiap tahun ganti. Mode pakaian malah tiap musim berubah. Bahkan untuk situasi tertentu, model pakaiannya juga tertentu pula. Gimana nggak butuh banyak duit coba?
Cewek yang nggak mau ketinggalan up to date otomatis tiap saat kudu sedia anggaran untuk ganti model rambut, model sepatu, model baju, dll. Buat potong rambut aja, minimal 10.000 perak melayang. Padahal itu nggak cukup setahun sekali. Begitu rambut terlihat nggak rapi, atau poni udah nutupin mata dikit, udah musti nyalon. Belum buat creambath atau hair spa. Bagi yang pengin rebonding, minimal sedia Rp 50.000. Tambah lagi kalo pengin bleaching atau beli produk-produk penghilang ketombe dan perawatan rambut lainnya. Hm, itu baru urusan rambut.
Belum lagi urusan kulit. Buat ngilangin jerawat, komedo atau flek item, kudu rajin beli produk-produk kosmetik atau jika perlu konsultasi ke dokter. Atau kalau nggak pede kulit gelap, berarti kudu sedia anggaran buat beli produk pemutih yang harganya bisa ratusan ribu. Belum buat lotion, make up, pedicure, menicure, dll.
Apalagai urusan baju. Mau renang, bajunya ada sendiri. Harganya bisa ratusan ribu perak. Mau pesta atau dugem, nggak bakal pede kalo pake baju sehari-hari. Mau shopping atau jalan-jalan, ya nggak oke kan kalo pakai seragam sekolah. Bisa-bisa ditegur satpam di pusat perbelanjaan, kan malu-maluin. Minimal kudu punya potongan casual plus jeans. Belum buat sepatu dan tas. Untuk pesta, jalan-jalan, sekolah atau main, sepatu/sendal dan tasnya juga musti beda-beda. Yang penting matching. Alamak, ribetnya!
Dari sinilah bermula gaya hidup konsumtifisme. Nah, untuk memenuhi konsumsi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan bahkan kebutuhan tersier inilah kaum cewek biasanya suka menjerat cowok-cowok yang berkantong tebal. Nggak heran kalo mereka akhirnya masuk kategori cewek matre. Bagi yang niat nyari jodoh, kemapanan materi cowok juga jadi penilaian nomor satu. Gaji musti gede, punya rumah pribadi atau mobil pribadi and so on. Soal agama atau kelakuan, akhirnya dinomorsekiankan. Parah!
Muslimah Anti Matre
Cap cewek matre idealnya nggak bakal menghinggapi remaja muslimah yang berpedoman pada pola pikir Islam. Soalnya dalam Islam, ukuran kebahagiaan bukanlah terpenuhinya kebutuhan materi dan penampilan fisik, tapi gimana kehidupan ini senantiasa selaras dengan perintah Allah Swt. Yup, ridho Allah Swt itulah yang menjadi ukuran kebahagiaan.
Makanya, seorang muslimah Insya Allah nggak bakalan jadi cewek matre. Coba bandingkan, mereka nggak perlu ribet mikirin urusan model rambut. Toh rambut hanya terlihat di dalam kehidupan khususnya. Kalaupun butuh perawatan seperti creambath, toh nggak seberapa sering. Insya Allah, dengan rambut tertutup ketika keluar rumah, udah mengurangi risiko-risiko buruk akibat terpaparnya rambut oleh sinar matahari, kering dan patah-patah misalnya. Jadi, anggaran perawatan rambut bisa diminimalisir.
Untuk urusan perawatan kulit juga sama. Seorang muslimah nggak bakal ribut buat mutihin kulit, karena ia yakin bahwa warna kulitnya adalah ciptaan Allah Swt yang terbaik, yang nggak bakal membawa efek pahala atau dosa dengan mengganti warnanya. Ia akan mensyukuri apa adanya. Meski sesekali dikunjungi jerawat atau komedo, nggak perlu terlalu stress buat ngilanginnya. Tertutupnya kulit sehingga terhindar dari paparan sinatr matahari, juga akan lebih menjaga kelembaban kulit sehingga produk perawatan yang dibutuhkan nggak perlu yang mahal-mahal.
Sementara itu, kosmetik, parfum, pernak-pernik rambut, ikat pinggang, perhiasan seperti kalung, anting, cincin dan gelang juga tak masuk daftar anggaran belanja. Jadi, lebih hemat kan? Makanya, cewek muslimah dijamin nggak matre. Apalagi mereka yakin, gaya hidup yang serba dilihat dari penampilan fisik itu sama sekali nggak selaras dengan nilai-nilai Islam. Jadi, ngapain diikuti? Cuek aja lagi!
Hidup Bersahaja
Di sisi lain, Rasulullash Saw sebagai suri teladan kita mengajarkan kita untuk hidup bersahaja. Bukannya menganjurkan melarat ya, tapi hidup secukupnya. Rasul nggak melarang sama sekali kita menikmati materi, bahkan sangat menghargai hambanya yang kaya, tapi saleh. Seperti sahabat Abdurrahman bin Auf. Kekayaannya Non, kalau dijejer-jejer, orang yang berdiri barisan depan kekayaannya nggak bakalan bisa ngelihat barisan kekeyaannya yang ada di paling belakang. Bayangin! Tujuh turunan nggak bakal abis tuh! Tapi, apakah beliau membelanjakannya untuk sekadar memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier? Sama sekali nggak. Malah harta beliau dihamburk-hamburkan untuk infak dan sedekah. Apa lantas cepat habis? Nggak juga. Malah semakin bertambah dan terus bertambah.
Begitulah, kalo berpedoman pada Islam, nggak usah keburu nafsu mencari banyak doku kalau sekadar dibelanjakan buat kebutuhan-kebutuhan lux. Apalagi sekadar belanja untuk mempercantik penampilan fisik atau gengsi-gengsian. Bisa-bisa stress sendiri! Iya nggak Non?(*)
/ Boks
Ruginya Cewek Matre
Jadi cewek matre, kelihatannya seneng ya. Soalnya, semua kebutuhan materinya terpenuhi. Tapi ada loh sisi negatifnya kalau kita udah kadung dicap cewek matre. Makanya hati-hati, hindari label itu! Karena jadi cewek matre bisa-bisa:
  1. Dijauhi temen.
Nggak semua temen kamu suka loh sama cewek matre. Bikin sebel atau mungkin iri. Lagipula, biasanya temen yang matre tuh kadang-kadang suka morotin temennya. Dikit-dikit minta traktir, dikit-dikit minta ini itu.
  1. Pemborosan.
Kebiasaan beli pernak-pernik yang sebetulnya bukan kebutuhan primer, sama saja dengan buang-buang duit. Kelihatannya sih sepela, karena harganya yang mungkin murah. Tapi kalau frekeunsi belanjanya sering, namanya pemborosan. Padahal barang itu akhirnya nggak dipakai.
3. Terjerumus dosa.
Awas, kalo virus matre udah kronis, halal-haram bisa dilabrak. Demi tuntutan materi, akhirnya menjerumuskan diri ke dalam kubangan dosa. Jual diri atau ngutil misalnya. Kan berabe!
4. Sulit Jodoh.
Serius Non! Ini bukan main-main. Banyak loh cowok-cowok yang ngeper mau
married gara-gara nggak pede dengan penghasilannya. Soalnya di benak mereka yang
kebayang adalah cukup nggak ya gaji gue buat nafkahi istri kelak? Ya nafkah dapur,
plus ngongkosi penampilannya. Belum lagi pas mau married suka ada aja cewek yang
meminta mahar selangit, gimana cowok nggak ngeper. (Bener nggak para ikhwan? Jujur ye!).(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here