Oleh Asri Supatmiati, S.Si
Lengkap sudah penderitaan rakyat di Republik ini. Ragam bencana melanda, paling komplit di dunia. Setelah dihantam gelombang tsunami, digoyang gempa, dihembus asap dan disembur lumpur panas, kini diterjang banjir. Tidak tanggung-tanggung, giliran jantung ibu pertiwi kedatangan tamu tak diundang itu. Hujan selama sepekan di hampir seluruh wilayah Jabodetabek, tiba-tiba menenggalamkan Jakarta dan sekitarnya. Memang, banjir bukan bencana baru bagi ibukota, karena sudah menjadi ritual setiap musim penghujan tiba. Hanya, tahun ini lebih parah dibanding banjir terbesar tahun 2002 lalu. Status ibukota siaga 1.
Ironisnya dan seperti biasa, semua pihak saling tuding. Orang Jakarta serta merta menuduh banjir sebagai “kiriman dari Bogor”. Bogor sebagai daerah penyangga ibukota dianggap bertanggung jawab atas terjadinya luapan air bah. Lubernya Sungai Ciliwung yang membelah Jakarta, dituduh akibat penggundulan daerah resapan air di kawasan Bogor. Sebaliknya, warga Bogor yang tak mau terima dituduh sebagai penyebab banjir, serta merta menyalahkan orang Jakarta. Bukankah daerah Puncak sebagai wilayah resapan air habis dibabat untuk vila-vila yang kebanyakan dimiliki warga Jakarta?
Lalu, pejabat menyalahkan rakyatnya karena dianggap tak ramah lingkungan. Seperti kebiasaan membangun rumah di bantaran sungai dan membuang sampah sembarangan. Sebaliknya, rakyat menyalahkan pejabat karena dianggap tak mampu mengentaskan kemiskinan sehingga mereka terpaksa hidup di bantaran sungai, juga tak becus membangun tata ruang kota yang bebas banjir.
PENYEBAB BENCANA
Bencana ada yang disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor alam yang memang sudah merupakan ketentuan (qodho) Allah. Seperti tsunami, gempa, angin puting beliung atau gunung meletus dan lain-lain yang tidak ada andil manusia di dalamnya. Sehebat apapun manusia dan kecanggih apapun teknologi, tidak mampu menghadang rencana Allah atas datangnya bencana semacam ini. Di sini tidak ada kontribusi manusia dalam mendatangkan bencana. Karena itu, sikap yang harus kita tunjukkan adalah bersabar dan bertawakal menghadapinya.
Penyebab kedua, karena faktor ulah manusia. Mental sebagian masyarakat yang tidak ramah lingkungan akan membuahkan bencana. Seperti kebiasaan membuang sampah di got, selokan, sungai, dll. Karena itu perlu pendekatan multidisipliner dan berwawasan lingkungan terhadap masyarakat. Perilaku kurang ramah lingkungan harus dibuang.
Sementara itu, longgarnya peraturan dalam pembangunan turut memberi kontribusi atas dampak negatif yang ditimbulkan. Seperti dibiarkannya pembalakan liar, penambangan pasir ilegal, pemberian izin mendirikan bangunan di daerah resapan air, pembakaran hutan, dll telah mendatangkan bencana banjir, longsor dan lain-lain. Belum lagi penataan kota yang kurang memperhatikan drainase, menambah parah masalah. Ditambah lemahnya hukum bagi pelaku perusakan lingkungan, membuat kerusakan semakin merajalela. Jadi jangan salahkan alam jika bencana melanda.
UPAYA SOLUSI
Untuk mengatasi banjir, Presiden SBY dalam rapat terbatas di kantor Kementerian Perumahan Rakyat dua hari lalu memutuskan beberapa langkah untuk mengantisipasi. Diantaranya pembangunan rumah susun perkotaan dengan anggaran Rp 50 triliun. Kemudian mempercepat tiga RUU untuk mengatasi banjir. Tiga RUU adalah RUU Pemerintahan Ibu Kota, RUU Bencana Alam, dan RUU Tata Ruang. Selain itu juga pembangunan banjir kanal timur, normalisasi daerah aliran sungai dan menata daerah resapan air di kawasan Puncak (Radar Bogor, 8/2/07).
Wacana pemindahan ibukota juga turut meramaikan opini. Semua itu sah-sah saja, asalkan berdasar kajian dan pemikiran yang mendalam. Dan yang penting, upaya antisipasi itu terealisasi demi kepentingan masa depan rakyat. Bukan sekadar bagi-bagi proyek kalangan elite.
Karena itu, perencana itu harus diawasi oleh seluruh lapisan masyarakat. Jangan sampai ketika banjir menyusut, semangat untuk mengantisipasi banjir turut menyusut. Sebab seperti yang sudah-sudah, janji-janji untuk mengantisipasi banjir sebatas lips service. Buktinya, janji menata kawasan Puncak hanya isapan jempol. Sampai kini vila masih bertumbuhan di sana. Pembangunan banjir kanal timur, juga terbengkalai dengan berbagai alasan. Banyak yang menilai, meski berhubungan dengan banjir, proyek ini ”kurang basah” sehingga tidak diminati.
KERDILNYA MANUSIA
Satu hal yang tak kalah penting dalam mencegah bencana adalah mengingat kembali kepada Sang Pencipta. Sebab, secanggih apapun upaya mengantisipasi bencana, jika tidak dilandasai semangat keimanan maka tidak akan efektif.
Bencana sejatinya sebuah peringatan akan betapa kerdilnya manusia. Sementara di sisi lain, sering manusia durhaka kepada Sang Pencipta yang telah menciptakan dirinya, menciptakan alam dan menciptakan bencana. Manusia lupa Sang Pencipta ketika senang. Ironisnya, ketika bencana menghampiri, ada dua kelompok manusia dalam mensikapi.
Pertama, kelompok yang putus asa dan apatis. Banyak korban bencana stres karena harta benda yang dikumpulkannya bertahun-tahun tiba-tiba lenyap. Sebagian lagi –ironisnya termasuk aparat atau pemerintah– meminta bantuan klenik, tenaga magis dan paranormal untuk menyelesaikan bencana. Seperti ketika Adam Air tiba-tiba lenyap, sampai mencari lokasi korban longsor di Bogor. Jelas, perbuatan yang termasuk menyekutukan Allah ini semakin menunjukkan kedurhakaan manusia terhadap Sang Pencipta. Sudah diberi bencana, masih juga berani melawan Sang Pencipta. Mestinya sikap seperti ini segera ditinggalkan.
Kelompok kedua, mereka yang segera ingat kepada Sang Pencipta. Bibirnya langsung mengucapkan puji-pujian kepada Sang Pencipta. Itu menunjukkan bahwa manusia tak bisa lepas dari Sang Pencipta. Karena itu wajar jika Ustad Jefry Al-Buchori dalam kunjungannya ke korban banjir mengingatkan masyarakat agar segera berdoa dan bertobat memohon pertolongan kepadanya.
Namun tak cukup dengan doa, manusia harus kembali kepada aturan Allah SWT. Bencana menunjukkan kekerdilan manusia, termasuk lemahnya manusia dalam merekayasa sebuah peraturan hidup. Karena itu, tidakkah kita sadar untuk kembali kepada peraturan buatan Allah SWT dalam segala aspek kehidupan?
Sesungguhnya, bencana merupakan peringatan kepada kita, manusia, yang semakin lama semakin jauh dari aturan-Nya. Padahal Allah SWT telah menurunkan aturan yang lengkap baik di bidang ekonomi, politik, sosial, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Hanya saja, manusia Indonesia masih saja mempertahankan sistem peninggalan Belanda atau sistem sekulerisme-kapitalis hasil impor dari Amerika Serikat dan sekutunya. Jangan heran bila bencana tak akan beranjak dari Republik banjir ini jika penduduknya masih juga durhaka kepada Sang Pencipta.(*)
Asri Supatmiati, S.Si, penggagas AlPen Prosa, sebuah komunitas penulis lepas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here