Oleh Kholda Naajiyah
Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan ke 62 Republik Indonesia tahun 2007 lalu, di Jakarta diselenggarakan “Konferensi Khilafah Internasional”. Lebih dari 100 ribu kaum muslimin dan muslimah, dari dalam dan luar negeri, memadati Gelora Bung Karno.
Acara itu difasilitasi oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Tokoh-tokoh dari berbagai organisasi Islam dan elemen masyarakat umumnya, turut memberi apresiasi atas acara akbar yang menjadi sorotan dunia itu.
Sedianya, tokoh-tokoh nasional seperti Amien Rais, Hasyim Muzadi, Adyaksa Dault dan Zainudin MZ dijadwalkan hadir, ternyata berhalangan. Namun Din Syamsudin, Arifin Ilham, Aa Gym, Prof Dr Hasan Nakoto dari Jepang dan tokoh-tokoh HTI mampu menggaungkan acara.
Kendati tidak semua tokoh akhirnya hadir, namun undangan itu menunjukkan upaya HTI untuk merangkul para tokoh Islam di tanah air untuk saling bersilaturahim dalam satu kesatuan akidah.
Hal ini patut mendapat apresiasi, di tengah cobaan bertubi-tubi yang menimpa umat Islam, termasuk isu perpecahan dan terorisme, serta ancaman disintegrasi bangsa yang menguat akhir-akhir ini. Kehadiran ratusan ribu massa dan kelancaran acara itu, menunjukkan umat Islam adalah satu dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.
Imperialisme Gaya Baru
Konferensi tersebut sekaligus sebagai kado istimewa bagi rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, yang hari ini sedang merayakan Hari Kemerdekaannya ke 62. Sebagai elemen bangsa, umat Islam turut menunjukkan rasa syukurnya atas lepasnya bangsa ini dari imperialisme.
Terlebih, sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia, tidak lepas dari peran serta para pejuang Islam. Pekik “Allahu Akbar” seperti yang dikumandangkan Bung Tomo, Jenderal Soedirman, Imam Bonjol, Teuku Umar, Cut Nya’ Dien dan deretan pahlawan nasional lainnya, mengingatkan betapa besar sumbangsih para pejuang muslim Indonesia dalam mewujudkan kemerdekaan. Mereka berjasa mengusir penjajah yang ratusan tahun telah menjadikan rakyat bangsa ini sebagai budak.
Ironisnya, meski secara fisik bangsa ini telah merdeka, namun jejak-jejak peninggalan penjajah itu masih mengangkangi bangsa ini. Betapa bangsa ini masih didominasi oleh mental budak, sebagai pembebek dan inferior di hadapan bangsa lain.
Semua itu karena pengaruh penjajahan gaya baru yang sadar atau tidak, telah merasuki mental hampir seluruh elemen bangsa. Neoimperialisme yang berhembus saat ini, bahkan lebih berbahaya dibanding penjajahan fisik. Imperialisme non-fisik ini lebih dahsyat pengaruhnya hingga merasuk ke berbagai sendi kehidupan, mulai politik, sosial, budaya, mental, pendidikan, kesehatan, hukum, gaya hidup dan bahkan pola pikir.
Kemandirian sebagai bangsa merdeka, belum terwujud. Bangsa merdeka, mestinya bebas menentukan nasib sendiri. Namun sebaliknya, sejak Orde Baru, Indonesia masih dipengaruhi bangsa lain.
Pengaruh asing dalam berbagai kebijakan, bahkan cenderung menguat di era reformasi ini. Resep ekonomi dari IMF, Bank Dunia, berbagai konvensi PBB, tekanan Singapura-Australia-Amerika Serikat dalam kasus terorisme dll, menunjukkan bahwa bangsa ini belum bebas merdeka.
Pengerukan sumber daya alam oleh asing berkedok investasi, telah menyengsarakan rakyat. Akibatnya, 39 juta rakyat di negeri ini terjajah oleh kemiskinan. Puluhan juta lainnya dijajah oleh pengangguran. Minyak tanah langka, minyak goreng mencekik harganya, pendidikan dan kesehatan tidak terjangkau.
Belum lagi pola pikir remaja yang dijajah paradigma materialisme, hedonisme dan permisivisme. Nilai-nilai budaya luhur banga ini nyatanya tercabik-cabik oleh gaya hidup Barat yang diikuti membabi buta oleh generasi muda.
Norma-norma ketimuran yang agung dan nilai-nilai suci agama, luntur berganti dengan liberalisme dan kebebasan tanpa batas sebagai pedoman.
Semua itu merupakan indikator bahwa rakyat ini belum merdeka. Rakyat masih dijajah oleh diterapkannya sistem kapitalisme yang menjadikan nilai-nilai sekularisme sebagai azasnya. Lantas, kapankah kemerdekaan hakiki itu terwujud?
Perjuangan belum Final
Pejuang di masa lalu, memang telah berhasil mengusir penjajahan fisik. Namun neoimperialisme kini masih bercokol di negeri ini dengan wajah dan baju baru, yakni ideologi kapitalisme-sekular.
Ideologi ini hanya bisa dilawan dengan kekuatan ideologi pula. Dan hanya ideologi Islamlah satu-satunya yang mampu membebaskan rakyat bangsa ini dari cengkeraman sekularisme. Karena itu, gagasan penerapan syariat Islam kaffah dalam wujud Khilafah Islamiyah sebagaimana diusung dalam Konferensi Khilafah Internasional 12 Agustus lalu, sejatinya merupakan tongkat estafet perjuangan para pejuang Islam di masa lalu. Ya, perjuangan masyarakat muslim Indonesia untuk menggapai kemerdekaan hakiki, belum final.
Gerakan untuk mengimplementasikan syariah Islam secara kaffah dan berdiri tegaknya Khilafah Islamiyah harus dicatat sebagai bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Islam adalah ideologi ciptaan Allah Swt yang tidak patut untuk dipertanyakan kebenarannya. Meragukan keandalan syariat Islam dalam menyelesaikan berbagai problematika kehidupan, sama halnya dengan meragukan Islam.
Secara empiris, sejarah telah membuktikan bahwa Khilafah Islamiyah eksis 13 abad lamanya. Bahkan wilayah nusantara waktu itu, menjadi bagian dari kekhilafahan dunia. Jejak-jejaknya masih ada hingga kini. Seperti adanya istilah “sultan” bagi penguasa-penguasa nusantara di masa lampau, bangunan alun-alun yang berdekatan dengan masjid dan pusat pemerintahan, penggunaan Bahasa Arab dll, adalah bukti bahwa sejarah Khilafah tidak jauh dari sejarah tanah air.
Karena itu, keyakinan akan bangkitnya kembali kekuatan Islam ideologi adalah suatu keniscayaan. Bukan sekadar sebagai
Penutup
Pertarungan peradaban, antara ideologi kapitalisme-sekular dengan ideologi Islam sudah jauh-jauh hari diramalkan berbagai kalangan. Adalah suatu keniscayaan dua idelogi yang berseberangan itu akan membuat dunia terpolarisasi menjadi dua kutub. Bahkan, badan intelijen NEC memperkirakan, pada tahun 2020 nanti ideologi Islam akan muncul sebagai kekuatan ideologi baru dalam bentuk Khilafah yang menyatukan seluruh umat Islam di dunia dalam satu wadah. Sayang, umat Islam sendiri masih banyak yang skeptis dan pesimis akan kebangkitan dirinya. Padahal, inilah jalan satu-satunya untuk membebaskan diri dari berbagai belenggu penjajahan duniawi. Inilah saatnya memperjuangkan kemerdekaan hakiki.(*)
Penulis, aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.

Konferensi Islam dan Peradaban di Sentul International Convention Center, Bogor. Foto by Tsabita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here