Oleh Asri Supatmiati, S.Si
Jurnalis, penulis buku-buku Islam
Secara global, umat Islam di dunia ini mayoritas dibanding umat lain. Kendati jumlahnya besar, namun umat ini tak memiliki bargaining position apapun. Persis seperti macan ompong. Mengapa bisa begitu ya?
Pulang kerja, muka Bu Laras tampak kesal. Wajah sumringahnya berganti benang kusut. Hari itu ia terlambat pulang. Pukul 21.00 malam baru sampai rumah. Padahal biasanya paling telat pukul 20.00 ia sudah bisa bercengkerama dengan anak-anaknya di rumah. Usut punya usut, bos di sebuah biro perjalanan wisata warisan keluarga besarnya itu terhambat di perjalanan. “Gara-garanya itu tuh, para peminta sumbangan. Masak sampai masang drum-drum di tengah jalan hanya untuk minta sumbangan pembangunan masjid,” gerutu Laras pada suaminya.
Seolah ingin menumpahkan kekesalannya, umpatan panjang pendekpun meluncur dari mulutnya. “Mbok ya nyari sumbangan itu yang intelek. Masak malah bikin macet, mana ada yang simpati kalau caranya begitu,” celotehnya. Hendro, suaminya hanya bisa tersenyum kecut. Pulang kerja dalam keadaan capek, bukannya diladeni malah jadi sasaran omelan. “Sudahlah Ma, mendingan mandi saja biar pikiran jadi segar,” kata Hendro sabar. Dalam hatinya tergelitik, “ini istri nyumbang enggak, malah ngomel lihat orang yang membutuhkan.” Duh!
Kisah Sari lain lagi. Gadis berkerudung lebar ini sering jadi bahan ledekan teman-teman sekantornya. “Mbok ya kerudungnya gaya dikit gitu loh, biar penampilanmu agak modern,” kata Mbak Rani, seniornya suatu ketika. “Iya Ri, nanti pelanggan pada kabur loh!” timpal Erni, teman sejawatnya yang pakai kerudung gaul.
Sebenarnya, sentilan seperti itu sudah biasa didengar Sari di kantor kecilnya. Dengan karyawan hanya 9 orang, mereka memang tampak akrab dan gayeng. Apalagi Mbak Rani yang jadi atasannya langsung, memang ceplas-ceplos dan suka bercanda. Jadi, tak perlu dipikirkan mendalam semua ucapannya. Namun karena kelewat sering, kali ini Sari terpengaruh juga.
“Kenapa ya berkerudung begini kok selalu dianggap kuno. Apa memang umat Islam itu selalu identik dengan jaman dulu ya,” curhat Sari pada Intan, setelah emosinya sedikit meredam.
“Yah, di dunia kerja kita memang harus realistis Ri. Apalagi kerjamu selalu berhadapan dengan klien, mungkin saja bosmu ingin melihat kamu berpenampilan lebih gaya gitu,” kata teman sekosnya itu berusaha bijak. “Tapi menurutku sih tak usah dipikirkan, selama tak mengganggu pekerjaan, cuek aja lagi,” imbuhnya buru-buru.
Ya, apa yang dialami Sari seringkali dialami banyak muslimah pekerja di tanah air. Maunya mereka istiqomah dengan keislamannya, namun sering berhadapan dengan cap-cap negatif tentang Islam. Kerudung panjang yang menutup sampai dada, sering dicap kuno, kolot, dll.
Fenomena yang ditemui Bu Laras juga hal sangat biasa. Umat Islam sering termarginalkan. Mereka terlilit dalam kemiskinan hingga terbiasa menengadahkan tangan dengan cara yang sangat mudah. Walhasil, umat Islam seringkali diidentikkan dengan kemunduran. Sebaliknya, meninggalkan Islam identik dengan kemajuan dan kemoderenan.
Kalau ada karyawan kantor yang ikut pengajian, dibilang sok alim. Tapi kalau ikutan dugem, baru tuh dibilang modern. Seorang muslimah yang tampil jujur tanpa polesan make up, dicap fanatik. Sebaliknya yang tampil dengan make up menyolok dipuji menarik.
Duh, kenapa ya umat Islam identik dengan cap-cap negatif? Kenapa umat Islam selalu identik dengan kemunduran? Benarkah umat ini memang sedang mengalami kemunduran?
Umat Terbelakang
Kalau menilik realitas yang ada saat ini, memang tak salah jika dikatakan umat Islam masih berada dalam titik kemunduran. Bagaimana tidak, umat Islam memiliki indeks yang rendah dalam hal SDM. Memang, jumlah umat Islam banyak, tapi hanya menang kuantitas dan kalah secara kualitas.
Fenomena di atas persis yang disinyalir Rasulullah Saw bahwa umat Islam ibarat buih di lautan, kelihatannya banyak, tapi tidak ada isinya dan mudah diombang-ambingkan. Itulah yang terjadi saat ini di tubuh umat Islam. Di belahan bumi mana pun, umat dijajah, kiprahnya termarginalkan dan citranya ternodai dengan berbagai cap negatif seperti kampungan, kuno, kolot, fanatik, fundamentalis, radikal hingga teroris.
Cap-cap itu begitu mempan dipropagandakan hingga meracuni pola pikir umat Islam. Lihat saja, generasi muda banyak yang lebih suka jadi pembebek terhadap gaya hidup Barat. Mereka menanggalkan rasa malu dan identitas kepribadian Islamnya.
Walhasil, dalam berbagai bidang, umat ini cenderung tak berdaya. Di bidang ekonomi, kemiskinan hampir selalu lekat dengan umat Islam. Lihat saja, di bus kota, di tengah jalan dan bahkan di rumah-rumah peminta-minta uang sumbangan selalu dari kalangan umat Islam. Entah untuk membangun masjid, menyantuni anak yatim atau membiayai pesantren. Duh, mustinya memang kita malu!
Di bidang pendidikan, umat Islam kalah dalam penguasaan sains dan teknologi. Ini memang ada kaitannya dengan kemiskinan yang membelit. Bagaimana bisa sekolah kalau untuk makan saja susah. Walhasil, kemajuan sains dan teknologi yang dulu pernah dipelopori pada imluwan-ilmuwan muslim kini tinggal kenangan. Bahkan, umat Islam kini banyak yang berguru dan berkiblat pada Barat dalam hal iptek.
Ya, akhirnya kaum kafir Baratlah yang menjadi penguasa iptek. Apalagi, ada sebuah kesengajaan oleh mereka untuk menjauhkan umat Islam dari kemajuan di bidang iptek. Buktinya, baru sejengkal melangkah saja umat Islam menguasasi sains, langsung dihentikan. Indonesia yang pernah bangga dengan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), dihancurkan gara-gara resep utang IMF. Kini, Iran digoyang dengan keberhasilannya mengembangkan industri nuklir.
Di bidang sosial budaya lebih parah lagi. Gaya hidup, tingkah laku dan pola sikap umat Islam lebih mencerminkan pola hidup kebarat-baratan. Kepribadian Islam hilang lenyap dari sosok-sosok muslimin dan muslimah, berganti dengan pribadi jahiliyah yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Belum lagi dalam bidang politik dan hukum. Sistem pemerintahan seperti demokrasi adalah produk Barat. Sementara sistem politik Islam sangat jauh dari aplikasi. Hukum-hukum syariah Islam juga dikebiri, hanya sebatas ibadah ritual individual yang diterapkan. Syariah lainnya dimusiumkan dalam kitab-kitab fikih semata. Jangan heran bila produk kebijakan penguasa sangat jauh dari Islam.
Jauh dari Ideologi Islam
Akar mendasar atas kemunduran umat Islam adalah tidak dijadikannya Islam sebagai ideologi yang menjadi pedoman bersama bagi seluruh umat dalam mengatur seluruh aspek kehidupan. Umat Islam terkotak-kotak dalam undang-undang negara mereka masing-masing. Mereka menjadi kehilangan identitas dan ideologi.
Bisa diukur, sejauh mana kedekatan umat Islam bangsa ini dengan Alquran. Berapa dari dua ratusan juta umat Islam di negeri ini yang bisa membaca Alquran dengan baik dan benar. Berapa dari yang bisa membaca itu yang mampu memahami dengan baik. Dan berapa dari yang memahami itu, mengamalkan dan memperjuangkan isi Alquran. Jumlahnya mungkin sangat kecil.
Belum lagi jika diukur dari pemahaman akan seluruh aspek syariah Islam. Masih banyak umat Islam yang tidak memahami bahwa Islam adalah ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Bahwa persoalan ekonomi, pendidikan, politik, hukum dan sosial budaya diatur dalam Islam.
Akibat ketidakpahaman (atau keengganan?) diatur dengan ideologi Islam, umat Islam seperti pribadi berwajah ganda. Dalam aspek individual dia beribadah sesuai syariah Islam, namun dalam aspek sosial dia menjalankan syariah sekularisme-kapitalis Barat.
Inilah yang menjadikan umat Islam tidak utuh, setengah-setengah, serba tanggung dan akhirnya berjalan di tempat, bahkan mengalami kemunduran. Di satu sisi mereka mengharap kesejahteraan, namun di sisi lain jalan yang ditempuh menuju pada jurang kehancuran. Di satu sisi mengharapkan surga, namun di sisi lain menempuh titian jalan menuju neraka.
Hal ini sudah jauh hari disinyalir oleh Rasulullah saw. Beliau bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah swt. Akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Alquran), dan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim) Seorang sahabat Rasul bertanya, “Apakah waktu itu umat Islam sedikit, Ya Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Justru kalian waktu itu banyak. Tapi, terjangkit penyakit wahn!” Masih bingung, sahabat itu pun bertanya lagi, “Apa itu wahn, ya Rasulullah?” Rasulullah saw pun menjelaskan, “Cinta dunia dan takut mati!” (ASRI/FR)
Boks/
Ketika Isi Alquran Tercampakkan
Kenapa umat Islam mundur, sementara umat lain bisa maju? Jawabnya: karena umat Islam menjauhkan diri dari Alquran. Memang, secara fisik Alquran begitu dekat dengan kehidupan umat Islam. Setiap muslim pasti memiliki dan menyimpan kitab suci itu. Bahkan setiap habis salat senantiasa berzikir dan mengumandangkan lantunan ayat Alquran.
Kitab berbahasa Arab itu senantiasa dijaga siapapun. Disimpan rapi di lemari yang kokoh dan dibersihkannya dari debu-debu. Jika dibawa bepergian, dipeluknya erat Alquran itu seolah tak mau dilepaskan. Kita juga tidak akan pernah membiarkan Alquran tergeletak begitu saja. Khawatir ada orang yang melangkahinya, apalagi menginjak-injak kitab itu.
Namun ironis, perlakukan terhadap fisik kitab suci itu justru berbanding terbalik dengan perlakuan terhadap isinya. Kandungan nash-nash Alquran sering secara sengaja dikotori dengan debu-debu bernama penafsiran ulang, reinterpretasi, rekonstruksi hukum Islam dan sejenisnya.
Isi kandungan Alquran yang memuat syariat-syariat Ilahi bahkan diinjak-injak, dihina, dicaci maki dan dicampakkan. Jangankan dipeluk dan diterapkan, kalam Ilahi itu justru dibuang jauh-jauh dari kancah kehidupan karena dianggap pil pahit atau racun yang membahayakan. Bahkan yang keji, justru dianggap sebagai biang kemunduran.
Seorang ibu begitu bangga mendengar anaknya mengumandangkan nash-nash Alquran dengan saritilawah yang merdu. Begitu menentramkan dan menyejukkan. Tapi ketika ternyata isinya tentang keharusan menutup aurat, telinga seolah tertutup rapat-rapat. “Ah, itu kan budaya Arab,” begitu dalihnya.
Seorang istri begitu bahagia ketika dinikahi dengan mas kawin seperangkat alat salat dan Alquran. Tapi begitu tahu ada kebolehan poligami di dalam isi kitab itu, serta merta ia menentangnya. “Itu menindas perempuan. Kalau suami mau kawin lagi, lebih baik cerai,” kata muslimah itu dengan lantang.
Seorang ibu diperintahkan Allah Swt agar menyusui anaknya sampai dua tahun. Tapi karena kesibukannya sebagai ibu modern yang bergelut dengan waktu, dialihkannya tugas menyusui dari payudaranya ke botol plastik. Ada yang beralasan air susunya nggak keluar, padahal takut puting kesayangannya lecet. Ada yang disibukkan bekerja sehingga tak sempat. Ada pula yang takut merusak keindahan tubuhnya.
Duh, tabiat manusia memang memilih yang enak-enaknya saja. Dalam melaksanakan syariat Islam yang seharusnya sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat), malah mengatakan “kami dengar dan kami pikir-pikir dulu.” Boro-boro taat, lebih parah lagi malah pura-pura tidak mendengar seruan Ilahi itu.
Akibat memilih yang enak-enaknya tadi, wajar jika secara agregat umat Islam tidak bangkit-bangkit. Sebab syarat sebuah kebangkitan adalah ketika seluruh syariat Islam itu ditegakkan.
Ibarat membangun sebuah istana yang megah, indah dan membuat betah penghuninya, maka seluruh elemen untuk mendirikan istana itu harus ditegakkan. Pondasinya, dinding, pilar, genteng, bahkan ornamen-ornamen sekecil apapun untuk mempercantiknya harus diletakkan pada posisinya secara tepat dan detail. Kalau hanya pilarnya saja yang ditegakkan, tentu tidak akan jadi istana. Apalagi kalau hanya memasang gentengnya saja, itu lebih mustahil.
Begitu pula Islam. Keindahannya akan tampak bila ditegakkan seluruhnya. Kalau kini banyak orang salat tapi tak merasa tenteram karena rezekinya seret, itu karena sistem ekonomi tidak ditopang oleh Islam. Kalau ada orang Islam yang bodoh, itu karena sistem pendidikan tak ditopang dengan pendidikan Islam. Kalau ada orang Islam yang korupsi, itu karena birokrasi menggunakan warisan penjajah yang menerapkan sistem sekuler. Begitu seterusnya. Dengan demikian, wajar jika fenomena kemunduran melanda umat Islam ini. Akankah kita berdiam diri dengan fenomena ini?

Umat muslim saat melaksanakan Idul Fitri di Lapangan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Foto by Tsabita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here