Oleh Asri Supatmiati, S.Si
Kesejahteraan yang berujung pada kebahagiaan adalah dambaan setiap manusia, termasuk perempuan. Namun, kondisi tersebut agaknya belum dirasakan mayoritas perempuan. Sebaliknya, jika kita memotret perempuan masa kini, maka akan terpampang gambaran miris. Seperti perempuan yang rendah pendidikannya, banyak yang buta aksara dan kesulitan ekonomi karena kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, hingga Maret 2010, ada 31,02 juta penduduk miskin di Indonesia, atau 13,33 persen dari total penduduk Indonesia. Dan, sebagian besar warga miskin itu adalah perempuan.
Tak sedikit perempuan yang akhirnya stres, hilang ingatan, atau bunuh diri. Bahkan, perempuan pun kini terlibat perilaku kriminal seperti mencuri, menipu, menjual narkoba, membunuh anak kandung sendiri, serta korupsi. Tak hanya itu, angka kematian ibu juga tinggi akibat mahalnya biaya kesehatan. Perempuan banyak yang menjadi korban pelecehan seksual, perkosaan, kekerasan dan bahkan tubuhnya diperdagangkan dengan harga murah. Perempuan benar-benar bernasib malang.
Semua problem tersebut terjadi akibat diterapkannya sistem sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan. Benar, para perempuan itu beragama, bahkan Islam, tapi tidak menjadikan agama sebagai pedoman bagi seluruh aktivitasnya. Sebaliknya, menjadikan sekulerisme dan liberalisme sebagai panduan dalam menjalani kehidupan. Ditambah pula negara, yang sama sekali tidak menjadikan nilai-nilai Islam dalam mengatur rakyatnya. Negara bahkan lebih banyak menerapkan resep-resep negara asing yang memang menjadi pelopor diterapkannya sekulerisme-liberalisme. Lihat saja, negara Indonesia dari tahun ke tahun semakin liberal dan bahkan menuju pada kegagalan dan kehancuran. Akibatnya, bukan hanya perempuan yang bernasib buruk, kaum laki-laki, anak-anak dan remaja umumnya, mayoritas juga sengsara.
Profil Perempuan Sekuler
Dalam pandangan ideologi sekuler-liberal, persoalan yang menghimpit perempuan harus diselesaikan oleh perempuan itu sendiri dengan sudut pandang perempuan. Menurut sekulerisme, jika perempuan miskin, maka harus didorong untuk mandiri agar mampu mendapatkan penghasilan sendiri. Walaupun itu dilakukan dengan mengekspolitasi tubuhnya sebagai komoditi, tak mengapa demi materi. Termasuk menjual diripun, dianggap sebagai “bekerja”. Na’udubillahi min zalik.
Juga, sekalipun dengan melupakan kodratnya sebagai perempuan atau melanggar syariat Islam. Seperi menjadi tenaga kerja wanita yang berarti meninggalkan suami dan anak-anaknya bertahun-tahun. Jelas, hal ini sangat menyengsarakan perempuan itu yang dengan sangat terpaksa berpisah dengan orang-orang yang dikasihinya.
Perempuan pun dibujuk untuk berpolitik praktis, seperti menjadi anggota dewan atau menjadi bupati, gubernur dan jabatan strategis lainnya dengan harapan mampu melahirkan kebijakan yang senantiasa menguntungkan kaum perempuan. Padahal, negara kita pernah dipimpin presiden perempuan, namun apakah nasib perempuan menjadi lebih baik? Juga, banyak anggota dewan dan menteri perempuan, namun nasib perempuan masih jauh dari harapan.
Islam Jaminan Kesejahteraan
Kondisi di atas jelas berbeda halnya jika perempuan berpedoman pada Islam sebagai jalan hidup. Ya, seandainya Islam dijadikan landasan dalam menjalankan kehidupan di seluruh aspek, niscaya nasib perempuan akan menemukan kondisi terbaiknya. Kesejahteraan dan kebahagiaan sebagai tujuan hidup akan dirasakan. Ini karena Islam sudah mengatur dengan sangat indah upaya-upaya untuk menyejahterakan perempuan khususnya, dan umat manusia pada umumnya. Baik aturan individual maupun sistemik, sangat menguntungkan perempuan.
Sebagai contoh (1) nafkah perempuan ditanggung walinya, yakni orangtuanya sampai ia menikah. Jika wali dan kerabatnya tidak mampu, negara wajib menanggungnya. (2) Perempuan wajib menjaga harga dirinya agar tidak dieksploitasi, seperti diperintahkan menutup aurat, meminta izin wali jika keluar rumah, ditemani mahrom jika menempuh safar, dilarang tabaruj atau berdandan mencolok, dilarang mengeksploitasi diri. (3) Perempuan diwajibkan memerankan peran sesuai kodratnya, dilarang berdandan menyerupai laki-laki dan melakukan aktivitas yang membahayakan dirinya. (4) Perempuan diperbolehkan berkiprah positif di masyarakat, seperti mengabdikan ilmu, bekerja sosial, berdakwah dan berjihad.
Hal di atas hanya secuil jaminan Islam dalam menyejahterakan perempuan. Yang perlu dipahami, kesejahteraan tersebut akan bisa dinikmati jika seluruh aspek kehidupan diterapkan Islam secara kaffah. Artinya, kebahagiaan perempuan muncul jika diterapkan sistem politik yang adil, sistem sosial yang sehat, pendidikan dan kesehatan murah/gratis, dimudahkannya akses terhadap sumber daya ekonomi, distribusi kekayaan merata, eksploitasi sumber daya alam yang benar dan demi kepentingan rakyat.
Itu semua bisa terwujud jika Islam dijadikan pedoman dalam membangun negara. Sebagaimana Rasulullah SAW ketika mendirikan negara di Madinah, atau para Khulafaur Rasyidin penerus beliau yang mendirikan Khilafah Islamiyah sebagai sistem politik.
Mengapa Harus Khilafah?
Ada beberapa alasan mengapa Islam harus ditegakkan dalam bentuk Khilafah. Pertama, perintah Allah SWT. Di antaranya seruan Al-Maidah:44-46:
وَمَن لَّمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ
“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang kafir.”
وَمَن لَّمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْظَالِمُوْنَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang yang zalim.”
وَمَن لَّمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ
Barangsiapa tdk memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.”
Kedua, fakta sejarah. Khilafah telah diterapkan selama 13 abad, hingga menguasai 2/3 wilayah dunia. Tidak ada sistem lain di dunia yang mampu menandinginya. Ilmuwan, ahli sejarah, ulama dan siapapun yang objektif mempelajari sejarah dunia mengakui eksistensinya. Ketiga, realitas keburukan sistem sekuler. Saat ini, di seluruh dunia, kegagalan sekulerisme dalam menyejahterakan dunia semakin tampak nyata. Bagaimanapun, umat manusia, membutuhkan alternatif sistem baru. Islam diyakini satu-satunya kekuatan baru demi terciptanya tatanan dunia baru.
Berdasarkan hal itu, tidak ada alasan bagi kita untuk menolak Khilafah. Bahkan, kita harus turut serta mendukung dan memperjuangkannya, bersama jutaan umat muslim di seluruh belahan dunia yang kini bahu-membahu memperjuangkannya. Lantas bagaimana peran kita, kaum perempuan dalam upaya memperjuangkan Khilafah? Sesuai seruan Allah SWT dalam surat Ali Imran:105 yang artinya: “Dan hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, dan memerintahkan berbuat kebaikan dan melarang berbuat kejahatan.”
Khatimah
Aturan buatan Allah SWT berupa seperangkat syariat Islam tersebut, tidak hanya menyejahterakan perempuan, tetapi seluruh umat manusia pada umumnya. Bahkan bukan hanya muslim, warga non muslim yang mau tunduk dan patuh pada aturan Islam akan sejahtera. Karena itu, selayaknya kita, kaum perempuan khususnya dan umat Islam umumnya, sangat merindukan segera diterapkannya syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Islamiyah. Bukan semata-mata mengejar kesejahteraan dan kebahagiaan, lebih dari itu juga demi menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah SWT demi mendapatkan kerihoaannya. Karena sesungguhnya, keridhoan Allah SWT itulah kebahagiaan hakiki. Wallahu’alam bi showab.(*)
Asri Supatmiati, penulis buku Indonesia dalam Dekapan Syahwat.

Para perempuan, siapapun dia, ingin hidup sejahtera. Location: Chico Resort, Bogor. Foto by Someone.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here