Seri Catatan Harian Bunda (13)
“Assalamu’alaikum wr wb. Gimana kabarnya Mba? Afwan ganggu” Sepotong SMS masuk. Nomornya tidak kukenal. Maklum, pakai handphone anakku karena HP milik sendiri sedang rusak. Jadi tidak ada catatan nama-nama di phonebook kecuali beberapa nomor keluarga dekat dan teman yang sering kontak.
Ah, kalau sudah ngobrol, nanti juga ketahuan ini siapa. Kalau nanyain kabar begini, pasti yang sudah lama tidak pernah kontak. Atau bahkan sama sekali belum pernah kontak sebelumnya. Ya…semisal silent fans gitu (halah…serasa orang terkenal haha…).
Maka tanpa perlu bertanya ini SMS siapa –saya merasa tidak sopan kalau nanya, “ini siapa ya?”– saya jawab dengan nada umum. “Wassalam. Alhamdulilah sehat…smg baik2 jg ya…”
Respon selanjutnya cukup membuatku mengenal siapa di seberang sana. Seseorang yang mungkin sudah hampir setahun lamanya tidak pernah saling kontak lagi. Setelah kejadian itu.
“Aamiin. Mba Asri ana mhn maaf atas kejadian HP BB yg prnh ana jual pada anti, tapi tdk pernah terbersit dalam hati ana unt menipu anti. HP tsb memang tdk ada mslh, entah knp pas ditrima sama Mba Asri HP itu ga bisa nyala. Mohon maaf sebesar2nya, insha Allah ana akan mengganti kerugian Mba Asri. Semoga Allah mengampuni dosa2 kita. Aamiin…”
“Ya gpp sama2 maafin jg…sy dah ridho kok…”
“Afwan Mba, ana mau ganti uwg anti, alhamdulillah ana lg ada sdkt rizqi, smoga bisa menebus kesalahan ana. Ana kena penipuan HP PO. Memang ummahat tsb tdk niatan unt menipu tapi qodarullah harus begini kejadiannya. Mungkin ini teguran dari Allah SWT untuk ana. Merasakan apa yg seperti anti rasakan dulu. Mohon maaf mba, gmn HP-nya skrg? Afwan,”
“Gpp Mba, sy dah ikhlas, dah ridho, krn sy jg kena musibah, BB sdh lama ga di sy lg…sdh ga perlu ganti apa2 kok mba…”
“Jazakillah khoir atas kemurahan hati Mba unt maafin saya, bahkan udh ridho dan ikhlas semoga Allah SWT menggantinya dg pahala. Aamiin.”
Hmm, ternyata ini dari seseorang yang dulu pernah bermuamalah dengan saya dan bermasalah. Tak perlu saya ceritakan detailnya, intinya, dia SMS saya setelah berbulan-bulan lamanya muamalah itu selesai. Dia ingin memperbaiki hubungan.
Ini disebabkan musibah yang baru dialaminya, yang dihubungkannya dengan kejadian kurang mengenakkan saat bertransaksi dengan saya dulu. Yah, memang  kita sering berlaku demikian. Jika kita kehilangan sesuatu, sempat terpikir dan mengaitkan dengan kesalahan dan kekhilafan kita. Atau kepelitan dan keserakahan kita.
Semisal, ketika kecurian, eh langsung memvonis “itu akibatnya kalau terlalu pelit, makanya diambil pencuri.” Ketika kita kena musibah, kita pun mencari-cari kejadian sebelumnya yang membuat musibah itu menimpa kita.
Saya pun waktu itu sempat berpikir, handphone saya yang hilang itu, pasti karena proses muamalahnya yang tidak clear. Ada ganjalan. Saling suudhon. Saling menyalahkan. Saling tidak ridho. Makanya, begitu HP itu hilang, saya pun berfikir sama dengan ukhti tadi, mungkin ini teguran Allah SWT pada saya, karena kekhilafan saya, sempat tidak ridho dan tidak ikhlas pasca bermuamalah.
Tapi, kemudian saya lebih berpikir realistis. Memang sedang apes saja. Sudah waktunya berpindah tangan. Hanya, caranya memang sangat menyakitkan. Sudahlah belinya bersusah payah, bermasalah, eh…hilang pula. Benar-benar tidak berkah. Begitu pikir saya. 
Waktu berlalu, akhirnya saya pun bisa menerima kenyataan. Mengikhlaskannya. Toh mustahil kembali lagi. Sehingga, ketika tiba-tiba dia menawarkan ganti rugi, saya merasa tidak pantas menerimanya. Bukannya saya sombong atau merasa tidak butuh. Bukankah saya juga kena musibah? Nah, justru karena kena musibah itu, saya bisa berempati. Bagaimana rasanya kehilangan harta kita yang berharga, persis yang dirasakan ukhti tadi yang baru saja kena tipu yang saya yakin nilainya tidak sedikit (saya nggak tanya ke dia, tidak perlu bukan?). Bagaimana saya akan tega menerima sesuatu darinya, sementara dia juga baru saja terkena musibah?
Dari sana justru saya mendapat pelajaran berharga. Dalam bertransaksi, harus benar-benar berakad dengan saling keridhoan. Saya sebenarnya juga merasa bersalah, karena pernah marah-marah pada dia dan belum meminta maaf. Makanya, saya justru bersyukur dengan SMS dia, akhirnya ganjalan selama ini hilang sudah.
Jadi ingat nasihat Ustad Rustama, seorang ustad tetangga rumah yang ceramah waktu halal bihalal di RT saya, bahwa dalam mewujudkan fitroh pasca Lebaran di diri kita, hal yang utama adalah memberi maaf. Bukan meminta maaf, tapi memaafkan. Tanpa perlu diminta. Dengan memberi maaf, hilanglah rasa dongkol, dengki dan dendam.
Persis seorang ibu yang tak pernah mendendam pada anak-anaknya, sesalah apapun ulah sang anak. Ibu selalu memaafkan tingkah polah anak, bagaimanapun menjengkelkan dan menyakitkannya. Saya pun belajar menjadi pemaaf. Memaafkan orang-orang yang pernah bergesekan, melukai atau merugikan saya, baik sengaja maupun tidak, meski orang-orang tersebut belum meminta maaf pada saya.
(Seraya berdoa, semoga orang-orang yang pernah saya sakiti, saya lukai atau saya rugikan, baik sengaja maupun tidak, juga berkenan memaafkan saya. Termasuk Anda, ya Anda, pembaca tulisan ini, maafkanlah saya jika saya pernah khilaf, baik lisan maupun tulisan).
Dan terkhusus terhadap Ukhti tersebut, sejatinya saya sudah lama memaafkan dia, jauh sebelum ia SMS. Tepatnya, sejak HP itu hilang. Namun dengan adanya akad saling memaafkan, kini kami berdua menjadi lega dan plong.
Persis seperti SMS penutup dia kepada saya: “Oke deh Mba Asri, makasih banyak yah atas semuanya, dari bln kemarin ana mau SMS tapi ga berani, akhirnya lega banget serasa udh beres ujian negara.” Tak lupa terseliplah sebuah emoticon senyum lebar. Ah, indahnya memberi maaf!(*)

Dua perempuan sibuk dengan smartphonena. Location: Harris Hotel, Malang. Foto by Asri Supatmiati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here