Oleh Kholda Naajiyah

Di era teknologi informasi saat ini, hampir sulit membedakan antara berita yang benar, isu, rumor, gosip, hoax, aib atau bahkan fitnah. Semuanya berserakan di berbagai media, baik media cetak, elektronik maupun media sosial.

Masyarakat kebanyakan menelan mentah-mentah, tak peduli benar-salah, tak mau repot meneliti serta  cek dan ricek. Bahkan terkadang langsung emosinal, panik dan percaya begitu saja. Akibatnya tak sedikit yang terjebak pada penyebaran berita bohong. Padahal, tentu berdosa menyebarkan berita bohong.

Lebih dari itu, sebagai sosok yang dianggap paham Islam alias pengemban dakwah, adalah bahaya jika kita menjadi penyampai pesan kebohongan. Kredibilitas bisa jatuh, kepercayaan masyarakat luntur dan bahkan tercemarlah nama baik kita. Apalagi jika Anda tokoh, figur publik atau punya jamaah, sungguh disayangkan jika mereka ‘kabur’ karena kekhilafan ini.

Karena itu, sungguh penting untuk menjadi penyampai berita kebenaran saja. Jangan sampai kita menjadi penyampai berita sampah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Untuk itu, perlu memahami karakteristik berita bohong  dan bagaimana menyikapinya:

1 Cek sumber beritanya
Adakah kutipan sumbernya: nama, jabatan, nomor telepon, situs blog/website, akun media sosial, media massa yang menayangkannya, tanggal tayangnya, dst. Setiap berita resmi selalu ada nara sumber, bisa pribadi atau badan (instusi/lembaga tertentu).

2 Teliti kontennya
Apakah isi berita itu lengkap, masuk akal, logis, tidak berlebihan, tidak terlalu dramatis/aneh/konyol atau malah sebaliknya. Apakah sudah mencakup who, why, when, where dan how. Berita resmi akan selalu menjelaskan apa yang terjadi atau berlaku, kemudian penyebabnya dan solusi atau saran atau mungkin hal yang bisa dilakukan.

3 Bagaimana kaidah bahasanya
Apakah menggunakan bahasa baku, tidak kasar, tidak mendiskreditkan seseorang, mengandung SARA, mengadu domba, menghasut, dan seterusnya. Berita yang baik dan benar akan menggunakan kaidah bahasa yang baik pula. Berita resmi tidak mungkin menggunakan singkatan atau istilah gaul. Beda dengan gosip, aib atau fitnah yang cenderung menggunakan bahasa bombastis dan berlebihan.

4 Jangan terpancing ungkapan islami
Banyak informasi yang diakhiri dengan kutipan “Allahu Akbar”, “Subhanallah”, “Masya Allah” dan sejenisnya. Jangan jadikan itu sebagai ukuran pembenaran bahwa informasi tersebut pasti valid.

5. Relevansi kepentingan
Semua berita yang benar akan ditujukan untuk kepentingan orang yang dikirim berita, bukan pihak lain. Cermati relevansi antara berita yang Anda terima dengan kondisi Anda. Makanya, jangan sembarang menerima pertemanan atau kiriman dari pihak yang tidak Anda kenal.

6. Kata penutup
Jika kita jeli membaca pesan berantai, ada satu pola yang mirip. Misal ada kalimat “mohon sebarkan”, “share jika Anda menyayangi keluarga Anda”, “bagikan jika tidak ingin sistem Anda bermasalah”, “bagikan ke 10 orang maka Anda akan mendapat keuntungan” dan sejenisnya. Pesan seperti ini bisa dipastikan hoax.(kholda)

Ibu-ibu harus cerdas memanfaatkan smartphone. Foto by Asri @Harris Hotel Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here