Oleh Asri Supatmiati

Ada berita super miris (lagi):  NA (13), seorang siswi kelas VIII SMP warga Jalan Pangeran Antasari Kelurahan 14 Ilir Kecamatan IT I, Palembang, diperkosa oleh 12 pelajar yang merupakan adik kelasnya sendiri. Kejadian di kawasan 15 Ilir itu berlangsung di rumah kosong, pukul 11.00, saat sekolah sedang clasmeeting (sriwijawapost,10/1/15).
Itu hanya satu contoh kasus tragedi remaja. Jauh sebelum peristiwa itu, ada juga yang bikin geleng-geleng kepala: seorang pelajar putri berseragam abu-abu putih, melahirkan bayi di sebuah kebun di pinggir jalan di Kelurahan Cimone Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang. Siswi –yang tentu belum bersuami itu– melahirkan bayi laki-laki (detik.com, 26/11/14).
Kapolsek Karawaci Kompol Jony Panjaitan saat dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa tersebut.
“Iya itu tadi di depan kelurahan, di pinggir jalan. Ibunya sama bayinya sudah dibawa ke RS Melati,” ujar Jony kepada detikcom, Rabu (26/11/2014).
Dua berita itu aja udah menggambarkan betapa bobroknya profil (sebagian) remaja kita. Remaja putri kalau tidak dizinahi pacar atau lelaki mana saja yang ia suka, eh…dimangsa pemerkosa.  Risiko selanjutnya: hamil. Solusi yang dipilih: mengaborsi janin atau membuang bayi setelah dilahirkan. Na’uzubillahi minzalik.
Sementara itu, profil remaja putra berarti juga nggak kalah bobroknya: suka menzinahi gadis-gadis dan atau memperkosa. Remaja putra ini rata-rata juga dekat dengan rokok, miras, narkoba, tawuran dan kriminalitas. Duh, mau jadi apa kalo udah besar ya?

URUSAN SIAPA?
Moral remaja sedang dalam kemerosotan sangat parah. Anehnya, nggak ada upaya apapun dari pemerintah sebagai pelindung warga negaranya buat mengatasi ini. Duh, ke mana pemimpin negara ini? Empati pemimpin nggak ada sama sekali terhadap korban-korban tragedi moral yang berjatuhan. Yah, paling tidak ngasih komentar, kek! Atau, jangan-jangan ini nggak dianggap masalah alias #bukanurusansaya? Parah!
Pantas saja kalo peristiwa miris itu terjadi lagi dan lagi. Apalagi, kalo kita perhatikan, kebijakan pemerintah emang menjurus ke arah liberalisasi yang makin tak terkendali. Proses liberalisasi di segala lini kehidupan ini, justru menambah parah dampak buruknya pada remaja (bahkan orang dewasa).
Remaja dikepung dengan hal-hal berbau liberal yang disetir kekuatan adidaya melalui berbagai produknya. Di sekolah, kurikulum pendidikan makin jauh dari agama. Pergaulan di lingkup sekolah juga demikian bebasnya. Profil pendidik, sebagian juga sudah sangat liberal.
Di rumah, orangtua –yang notabene juga telah dicuci otak dengan ideologi sekuler– akhirnya juga menanamkan nilai-nilai liberal. Orangtua yang cenderung memberi kebebasan pada anaknya. Contohnya, membolehkan anaknya pacaran. Tidak mengajarkan etika, moral dan pendidikan budi pekerja. Apalagi menanamkan nilai-nilai agama yang benar-benar bisa membekali anak dengan pemahaman Islam yang mendarah daging.
Orangtua juga sibuk dengan urusan materi hingga absen mencermati perkembangan fisik, psikis dan pola pikir anaknya. Mungkin karena sibuk berkarier, bisa juga karena memang desakan ekonomi sehingga ayah-ibu dua-duanya terpaksa bekerja hingga tak sempat mencermati buah hatinya. Contohnya kasus pelajar yang melahirkan tadi, apa orangtua –khususnya sang ibu– atau gurunya nggak tahu-menahu dia hamil? Aneh!
Apalagi, di rumah sarana dan prasarana liberalisasi sangat masif. Lihat saja tayangan di televisi, sarat gaya hidup liberal. Sinetron, film, musik, talk show dan bahkan acara lawakan, selalu menampilkan filosofi hidup liberal yang serba bebas, serba permisif dan hedonis. Semua tak jauh-jauh dari fun, food, fashion, seks, party dan matre. Nggak ada tuh tayangan yang menanamkan nilai-nilai moral, inspiratif dan inovatif kecuali sangaaat sedikit.
Lalu di lingkungan, remaja juga dikepung liberalisasi. Mulai pergaulan yang sudah bebas tanpa batas. Cowok-cewek nggak ada sekat, bahkan intim. Lalu cara berpakaian yang makin irit bahan. Ditambah masyarakat yang individualis dengan ego masing-masing. Nggak peduli dengan urusan orang lain. Ogah “mengurusi” orang lain meski itu berupa kemaksiatan di depan mata.

KAMU BERHARGA
D’Riser, kamu, ya, kamu yang masih remaja, adalah aset sangat berharga. Jangan rusak duniamu dengan kehidupan yang tidak berguna. Jaga diri baik-baik, jangan sampai terjerumus jadi remaja rusak. Saatnya untuk terus memperbaiki diri.
Kamu harus berbeda dengan remaja kebanyakan yang tidak memikirkan hal-hal yang positif, tapi juga harus menjadi pejuang bagi perubahan di dunia kamu. Jangan biarkan remaja di luar sana terus mengalami nestapa. Kalau mereka tidak mampu mengubah dirinya, bisa jadi di tanganmulah perubahan mereka bisa terwujud.
Makanya, butuh kerja keras dan peran besar kamu-kamu untuk mengenyahkan sumber malapetaka remaja: ideologi sekuler-liberal. Ganti dengan ideologi Islam. Iya dong, nggak ada solusi lain. Inilah way of life yang bakal menyelamatkan moral remaja.
Islam melarang remaja bergaya hidup liberal, melainkan memiliki seperangkat aturan yang sangat menjaga moral. Misalnya soal pergaulan, pendidikan akhlak, penjagaan diri dari interaksi dengan lawan jenis, dll.
Ingat, di tangan-tangan kamulah kelak masa depan kepemimpinan dan  peradaban bangsa dan dunia ini berada. Remaja adalah masa depan. Kalau remaja sudah rusak, ke depan mereka tidak akan bisa menjadi pemimpin yang benar. Akhirnya negeri ini akan terus disetir dan dijajah kekuatan adidaya yakni ideologi sekuler. Mau bobrok terus?

JADILAH KEBANGGAAN
Muslim harusnya menjadi umat terbaik, terdepan dan tercanggih. Harus jadi leader, pioner dan visioner. Jangan mau tertipu dengan silaunya gaya hidup liberal yang seolah-olah menawarkan kesenangan. Itu semu. Makanya, remaja harus berpegang teguh pada Islam.
Kalo islam dipahami secara mendalam oleh remaja, lalu dipraktikkan dan didakwahkan kepada teman-teman remaja pula, tragedi moral seperti di atas tak akan terus terulang. Dan, kamulah yang wajib ikut berperan. Ingat Sobat, mengutip ungkapan orang bijak, kelak ketika kalian udah tua, fisik udah loyo dan nggak bisa lagi ngapa-ngapain, hanya ada dua kemungkinan yang bakal kamu kenang: apakah kamu akan membanggakan masa mudamu, atau sebaliknya, menyesali masa mudamu. Tentunya, jangan jadi golongan yang menyesal, ya. Makanya, yuk bangkit sejak sekarang!
Buat dirimu jadi kebanggaan. Yah, minimal membanggakan dirimu sendiri. Lalu membanggakan orangtua. Dan terpenting, apa yang kamu lakukan di usia remaja itu bisa menjadi kebanggaanmu kelak di hadapan-Nya!(*)

* Tayang di Majalah Remaja D’Rise edisi Februari 2015

Seharusnya remaja tuh gini, inshaa Allah jadi anak sholeh calon pemimpin. Foto: Tsabita. Lokasi: IPB.

1 COMMENT

  1. Ya karena Remaja sudh terkena Doktrin sesat.Doktrin sesat menyebar lewat pergaulan.seolah remaja perempuan mau saja menyerahkan perawan demi "Cinta".padahal Cinta bisa melahirkan kebencian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here