Sumber foto: 1.bp.blogspot.com

Dunia hiburan gempar. Ini setelah ditangkapnya artis berinisial AA yang nyambi jadi pelacur kelas kakap. Tarif short time selama 3 jam saja, Rp80-200 juta. Sehari bisa melayani 3-5 pelanggan. Mainnya di hotel bintang lima. Tak hanya di dalam negeri, sampai ke Amerika Serikat (detik.com, 9/5/15).

Wacana Konyol
AA hanyalah satu dari “produk” prostitusi online. Masih banyak perempuan lainnya yang juga menjadi pelakunya. Apakah alasannya karena desakan ekonomi? Tentu bukan. Tertangkapnya AA jelas membuktikan bahwa pelacuran saat ini bukan didorong motif ekonomi. Lalu apa?

Pelacur seperti AA atau yang lainnya yang bertarif tinggi, adalah pelaku “bisnis syahwat”. Entrepreneur modal badan. Mereka memang menjadikan dirinya sebagai komoditi untuk dijual mahal. Label ‘artis’ menjadikan tarifnya melangit. Mengapa? Artis identik dengan sosok cantik, mulus, dan terawat. Makanya mahal.
Ya, ibaratnya, pasti beda membeli produk di kaki lima dengan di mal. Seperti itu pula, ada pelacur yang menjajakan diri di pinggir jalan, dengan risiko ditangkap Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Ada pula yang di hotel bintang lima yang lebih minim risiko.
Semuanya menunjukkan: prostitusi tetap eksis. Dilokalisasi atau tidak, akan tetap ada selama sistem yang diterapkan adalah sistem sekuler-liberal. Maka, wacana lokasisasi prostitusi tidak masuk akal. Lebih konyol lagi, menuduh bahwa merajalelanya pelacuran online, di kos-kosan atau hotel, adalah dampak dari penutupan Gang Dolly.
Padahal, “Dolly online” ini memang sudah eksis sejak perkembangan dunia teknologi memudahkan komunikasi melalui smartphone. Apa sih yang tidak bisa dilakukan di ponsel pintar ini? Pelacuran di manapun dan melalui sarana apapun, akan tetap ada, selama ada pria hidung belang dan perempuan penjaja tubuh yang tidak mau tobat.
Pasalnya, dalam sistem hukum saat ini, pelacur selalu ditempatkan sebagai korban. Dalam kasus AA, dia hanya dijadikan saksi. Bukan tersangka. Setelah ditanyai, dibebaskan. Ya, belum pernah ada pelacur yang dihukum. Pelacur di pinggir jalan yang ditangkap Satpol PP pun hanya didata, dikasih peringatan agar tidak beroperasi lagi. Dah gitu aja!
Maka, tidak ada efek jera. Hari ini ditangkap di Jalan A, besok beroperasi di Jalan B. Hari ini ditangkap di kota A, besok bisa pindah ke kota B. Gitu aja kok repot. Dalam berbagai kasus, hanya mucikarinya saja yang didakwa. Bagaimana pula dengan para pelanggannya? Sama sekali tidak tersentuh hukum. Bebas melenggang. Bebas booking pelacur lainnya, kapan saja.
Itulah lingkaran setan prostitusi yang tak akan bisa diputus saat ini. Sebab, tidak ada yang bisa menghukum para pelaku perzinaan yang jelas-jelas melanggar syariat Islam itu.
Bukan Isapan Jempol
Tertangkapnya AA membuka tabir akan prostitusi di kalangan artis yang selama ini hanya dianggap gosip. Memang, tidak semua artis melacurkan diri, namun artis nyambi itu memang ada. Bukannya suuzhon, toh sudah ada buktinya.
Pelacur kelas kakap seperti AA ini, melakukannya jelas bukan didasari motif ekonomi. Maka, kepada para pembela PSK yang selalu mempropagandakan kemanusiaan, kita bertanya, apakah PSK seperti AA ini juga masih akan dibela?
Sungguh celaka jika pelaku maksiat terus-menerus dibela. Bahkan dihamburi empati dan dielu-elukan. Mereka malah mendapat “berkah” akibat kasusnya: menjadi makin terkenal. Job ngartis pun semakin deras mengalir. Bahkan pada beberapa kasus, sosok seperti ini sontak jadi bintang tamu yang nongol di berbagai acara talkshow televisi.
Tak perlulah disebut satu persatu, pasti kita masih ingat bagaimana sosok pelaku maksiat di kalangan artis yang malah makin eksis keartisannya, hingga kini. Bahkan sebagai publik figur, kerap dielu-elukan. Terutama oleh kaum perempuan, kaum ibu yang notabene begitu mengagumi dan meneladani para artis ini.
Maka sungguh heran bila hari ini, begitu banyak ibu-ibu yang merestui anaknya terjun ke dunia artis. Misalnya mendukung sang buah hati mengikuti berbagai ajang pencarian bakat, kontes kecantikan dan audisi-audisi keartisan lainnya. Bangga jika anaknya terkenal. Bahagia karena sontak kaya mendadak.
Bukan Teladan
Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia artis begitu rawan dengan kemaksiatan. Dunia yang menjanjikan gaya hidup glamour, hedonis dan permisif. Dunia hiburan yang dekat dengan hura-hura, pesta, campur-baur laki-laki perempuan tanpa batas dan bahkan narkoba.
Sayangnya, dunia seperti itu banyak dicari manusia. Termasuk kaum muslimin dan muslimah saat ini. Mereka membayangkan, betapa enaknya menjadi terkenal dan banyak uang. Mereka iri dengan kehidupan para selebriti yang hobi berbagi kemewahannya di media, termasuk media sosial.
Akibatnya, para artis inilah yang jadi teladan. Anak-anak masa kini cita-citanya ingin jadi artis terkenal. Lalu ibunya mengaminkan. Sungguh celaka jika situasi seperti ini dibiarkan. Artis sama sekali bukanlah teladan. Apalagi artis yang nyata-nyata pelaku maksiat.
Solusi Komprehensif
Prostitusi selamanya hanya membawa kemudaratan. Pemicu penyakit sosial, seperti perceraian, aborsi, trafficking dan penyebaran penyakit seksual menular, termasuk HIV/AIDS yang mematikan. Maka, diperlukan solusi komprehensif untuk menutupnya.
Sudahi prostitusi untuk menciptakan masyarakat yang bersih. Caranya, ganti sistem sekuler dengan sistem Islam. Negara wajib menerapkan hukum-hukum Islam berdasar Alquran dan sunah. Negara harus tegas memberikan sanksi pidana kepada para pelaku prostitusi. Mucikari, PSK dan pemakai jasanya semua harus dihukum.
Mereka adalah subjek dalam lingkaran prostitusi. Hukuman di dunia bagi orang yang berzina adalah dirajam (dilempari batu) jika ia pernah menikah, atau dicambuk seratus kali jika ia belum pernah menikah lalu diasingkan selama satu tahun.
Di sisi lain, negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan hidup setiap anggota masyarakat. Caranya, ciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya hingga seluruh warga dapat mengakses sumber rezeki dengan cara halal. Sehingga, alasan mencari nafkah tidak bisa lagi digunakan untuk melegalkan prostitusi.
Tentu saja, ini juga didukung dengan memberikan bekal kepandaian dan keahlian pada warganya. Dengan demikian setiap individu mampu bekerja dan berkarya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak. Jadi, tidak perlu melacur lagi.
Di samping itu, tutup semua tempat-tempat hiburan yang dijadikan sarang maksiat. Perketat tayangan-tanyangan di media yang menawarkan gaya hidup hedonis. Sebab, gaya hidup mewah inilah inspirasi bagi para perempuan penjaja cinta untuk mendapatkan uang dengan cara instan.
Tak ketinggalan, perkuat pondasi keimanan dan ketakwaan dalam keluarga. Kaum ibu dan anak-anak perempuan menjaga kehormatannya. Demikian pula kaum ayah dan anak-anak laki-laki, dengan pemahaman agama yang benar, harus memiliki rasa hormat pada perempuan. Dengan begitu tidak terpikir untuk melakukan tindak maksiat. Dengan solusi di atas, diharapkan prostitusi tersingkir secara perlahan tapi pasti.(kholda)
* Tulisan ini tayang di Media Umat edisi 151

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here