Masa Orientasi Siswa (MOS) tiap tahun pasti memakan korban. Tak tanggung-tanggung, nyawa taruhannya. Memang tidak tewas di sekolah, tapi diduga karena kelelahan mengikuti MOS.
Contoh sistem perkenalan sekolah
di SIT Insantama.
Foto: SIT Insantama.

Seperti kita tahu, aktivitas MOS biasanya padat dengan kegiatan. Seperti “dijemur” di lapangan, aktivitas fisik dan seabrek kegiatan yang bikin capek di sekolah. Apalagi jika terkena hukuman, seperti skot jump atau push up. Belum lagi tugas-tugas nyeleneh yang kerap menyertai MOS. Seperti menyediakan pernak-pernak neko-neko yang aneh-aneh, mengerjakan tugas yang nggak masuk akal sepulang MOS yang harus dibawa esok harinya. Pontang-panting menyelesaikan tugas itu tak urung membuat para peserta MOS capek fisik. Belum lagi capek mental karena tekanan para senior.


Padahal, tak semua anak didik mampu menjalankan aktivitas berat itu. Apalagi jika kondidi fisiknya memang memiliki keterbatasan. Jika dipaksakan, akibatnya bisa fatal. Seperti yang dialami Febriyanti Safitri, siswi kelas 1 SMP PGRI Megamendung, Kabupaten Bogor. Ia meninggal dunia saat masa MOS. Febri tiba-tiba terjatuh ketika apel pagi, Rabu (29/7), lalu dilarikan ke Puskesmas. Namun dalam perjalanan sudah tak tertolong.

Siswi baru ini diduga meninggal karena menderita penyakit maag akut.
“Dan perlu diketahui, pihak sekolah tidak memberikan kegiatan yang memakan fisik terhadap anak anak yang baru masuk di bangku kelas satu. Dan kejadian itu menimpa dua siswi. Yang satu korban meninggal, dan yang satunya lagi hanya mengalami pingsan biasa dan sudah sehat kembali, ” ungkap  Muhammad Falah, bagian kesiswaan di sekolah tersebut (bogorkab.go.id, 30/7/15).
Kejadian serupa menimpa Evan Christopher Situmorang, yang meninggal karena kecapean akibat MOS di SMP Flora Pondok Ungu Bekasi, 27 Juli 2015. Bagaimana perasaan orangtua, khususnya sang ibu yang melahirkan anak-anak itu. Betapa mirisnya, anak yang diasuh dan dididik sejak bayi justru meninggal muda dalam kondisi tragis.

Musiumkan MOS
MOS sudah lama dikritik agar dimusiumkan. Namun, nyatanya masih saja ada yang mengadakan MOS dengan aktivitas penuh kekerasan fisik. Dalihnya, untuk memanamkan sikap tahan banting bagi anak didik. Biar tidak punya mental cengeng, disipilin, dan tangguh.
Selain itu, MOS juga penting untuk mengenalkan peserta didik dalam lingkungan belajar yang baru agar memiliki kesiapan belajar yang baik. Mereka dikenalkan tentang fasilitas belajar, strategi belajar, kurikulum, tata tertib siswa, kultur akademik, pendidik dan tenaga kependidikan, serta teman-teman, baik seangkatan, maupun kakak-kakak kelasnya.
Sayangnya, dalam praktik, banyak hal yang tidak menyenangkan dialami anak didik. Bahkan, menjurus pada perpeloncoan yang menimbulkan korban. Padahal, semua pihak terkait sudah berteriak agar MOS kali ini tidak ada kekerasan.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia Yohana Yembise misalnya, mengimbau agar MOS diisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif, kreatif, inovatif, dan dapat membentuk karakter anak Indonesia yang berkualitas serta berakhlak mulia.
“Budaya kekerasan saat MOS harus dihilangkan, suasana yang aman dan menyenangkan harus diciptakan agar ke depan anak-anak akan bersemangat menjalankan aktivitasnya bersekolah,” ungkap Yohana. UU Nomor 23 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah melalui UU Nomor 35 Tahun 2014 secara tegas telah mengatur adanya sanksi hukum bagi para pelaku kekerasan terhadap anak.

Rumah Kedua Anak
Tentu saja, mengenalkan lingkungan sekolah yang baru sekaligus menanamkan mental dan disiplin pada anak didik tidak boleh dengan jalan perpeloncoan. Itu adalah cara-cara kolonial yang sudah usang.  Bahkan cara itu tidak akan efektif sama sekali, jika pola pikir dan pemahaman anak didik tidak dibenahi. Jadi, penanaman pemahaman tentang pentingnya nilai-nilai disiplin, jauh lebih menancap dibanding sekadar bentakan fisik.
Untuk itu, perlu dirombak total paradigma MOS dalam sistem pendidikan nasional. Dimulai dari perombakan pemahaman tentang sekolah. Harus dipahami oleh semua pihak bahwa sekolah adalah rumah kedua bagi anak. Bayangkan, waktu anak paling dominan di sekolah setelah di rumah. Karena itu, lingkungan sekolah harus diciptakan menyenangkan, sebagaimana menyenangkannya di rumah.
Sekolah harus membuat betah dan dirindukan anak didik. Kepala sekolah, pendidik, dinas pendidikan, siswa dan semua stake holder harus paham bahwa sekolah itu tempat menuntut ilmu yang menyenangkan, bukan menyeramkan.
Nah, MOS sebagai pintu awal masa-masa anak mengenal sekolah barunya, seharusnya menjadi magnet yang mampu menyedot ketertarikan, rasa ingin tahu yang besar, kecintaan dan semangat untuk mencintai sekolah barunya. Bukan sebaliknya, MOS menjadi momok bagi anak didik sehingga takut dan malas ke sekolah.
Tahap awal anak masuk sekolah, seharusnya dengan membuat cuasana sekolah yang fun. Bila perlu dihias berbagai pernak-pernik full colour, poster-poster motivasi dan inspirasi, mading foto-foto kegiatan sekolah yang menyenangkan, tayangan tentang prestasi para pelajarnya, atau pameran karya-karya para siswa.
Para guru wajib berdiri di gerbang terdepan, tersenyum ramah, menyambut murid baru, menyalami satu persatu sembari mengenalkan diri dan menanyakan nama sang anak dengan ekspresi gembira. Dijamin anak-anak akan terkesan.
Para kakak kelas atau senior turut menyambut adik-adik kelasnya seperti mendapat adik baru, mengajaknya berkenalan, bercengkerama dan ditugaskan untuk memandu mereka berkeliling sekolah dengan suasana penuh riang gembira.
Penyambutan yang ramah anak dan penuh kehangatan seperti ini, akan membekas di benak anak, bahwa ternyata sekolah itu menyenangkan. Esok mereka tidak akan keder ke sekolah. Bahkan ingin segera berangkat sekolah.

Pondasi Agama
Selanjutnya, kegiatan-kegiatan di awal-awal sekolah lebih mengutamakan pendidikan agama sebagai pondasi bagi penanaman nilai-nilai akhlak. Disiplin, jujur, pemberani, dan percaya diri, sebagaimana ingin ditanamkan oleh MOS, sejatinya akhlak mulia yang diajarkan Islam. Semua itu kewajiban seorang muslim. Tak perlu dipaksakan melalui kegiatan penuh tekanan, justru harus ditanamkan melalui kajian atau training-training motivasi yang menyemangati. Anak akan mengaplikannya dengan disertai contoh teladan, bukan paksaan.
Perlu pula diingat, pengenalan lingkungan sekolah berlangsung kontinyu dan tidak bisa dilakukan sesaat. MOS yang hanya berlangsung beberapa hari, tentu tak cukup untuk menanamkan wawasan tentang sekolah pada anak didik. Seiring dengan kecintaan anak didik pada sekolah, selama proses belajar mengajar itulah nanti anak-anak akan semakin memahami lingkungan sekolahnya. Jadi, jangan harap hasilnya akan instan.
Tak kalah penting, menanamkan kecintaan anak pada ilmu. Ini agar tidak menjadikan orientasi pendidikan pada tujuan materi semata sebagaimana pendidikan sekuler. Nilai raport, ranking, piala dan penghargaan bukanlah tujuan anak didik dalam bersekolah, melainkan penguasakan ilmu, life skill dan pembentukan kepribadian Islam.
Semua ini memang tidak bisa diterapkan jika paradigma dunia pendidikan masih sekuler seperti saat ini. Harus diubah menjadi pendidikan berbasis Islam melalui sistem pendidikan yang komprehensif. Dengan begitu, tahun-tahun mendatang MOS akan diwarnai keceriaan, bukan lagi berita duka yang memiriskan.(kholda)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here