Sejak pernikahan sejenis disahkan di Amerika Serikat Juni lalu, para lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) di Indonesia seolah mendapat lampu hijau untuk eksis. Pelaku maupun penyerunya beramai-ramai unjuk gigi. Tak lagi malu-malu, bahkan sangat vulgar.
Tak hanya di klub malam, diskotek atau lokasi tersembunyi, kini LGBT sudah menerobos dunia kampus. Tak tanggung-tanggung, kampus bonafit seperti Universitas Indonesia (UI) pun telah dirasuki makhluk bernama LGBT.

Seperti wadah curhat mereka, Support Group and Resource Center On Sexuality Studies (SGRC) UI sudah merangkul 200 anggota. Memang tak semua LGBT, tapi jelas menerima LGBT.  Founder & Chairperson SGRC UI, Ferena Debineva (24) menyebut, SGRC UI lebih seperti study club. Berisi mahasiswa yang tertarik dengan segala hal tentang seksualitas. Lalu membahasnya secara ilmiah. Layanan pertanyaan seputar seks lewat ask.fm yang dibuka sejak Januari 2015, bisa menampung 50 pertanyaan perhari dari para follower. Bahkan 1.000 pertanyaan belum sempat dijawab (wartakota, 18/8/15). Wow!

Yang disayangkan, para LGBT ini tidak diarahkan untuk sembuh dan kembali hidup normal. Jika ada yang diarahkan ke psikiater, tak ada satu pun yang dibimbing keluar dari LGBT. “Paling mereka hanya disuruh terapi tulisan. Tapi itu bukan untuk menyembuhkan LGBT mereka. Sebab Psikiaternya menganggap LGBT bukan penyakit,” kata Ferena terbahak.
Sementara itu, di kampus UIN Sunan Kalijaga juga bersemai komunitas LGBT. Ditandai dengan lahirnya akun twitter UIN Suka Gay Community. Akun ini, terus berkembang. Bahkan menjadi identifikasi jejaring gay antarkampus (koranopini.com, 7/715).

Sedangkan di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, rektor dan dekan dikecam ratusan alumninya, karena tidak memberi izin diskusi bertema “Lesbian Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) dalam Sosial Masyarakat Indonesia” oleh Lembaga Pers Mahasiswa Gema Keadilan Undip tidak diberi izin untuk digelar (tribun-bali.com, 16/11/15).

Di Universitas Lampung, sempat pula merebak seminar perayaan hari LGBT yang sedianya digelar di FISIP, 27 November lalu. Tak pelak, isu ini membuat resah kalangan dosen hingga mahasiswa (radarpeda, 20/11/15).

Ilmu Terselubung

Atas nama ilmu pengetahuan, kampus sebagai kancah intelektualitas kini disibukkan dengan pelajaran seksualitas. Katanya intelektual, tapi mundur  pola pikirnya. Benar, seksualitas adalah fitrah pada manusia. Namun sangat berlebihan jika seksualitas menjadi topik utama pembahasan di kalangan intelektual. Apalagi menyoal LGBT yang sudah jelas kesesatannya.

Di sisi lain, generasi kampus jauh dari nilai-nilai agama. Pembahasan LGBT tentu sejalan dengan paradigma berpikir sekuler yang menyetujui, mendukung dan melegalkan LGBT. Tidak akan ada sudut pandang agama di sana. Propaganda LGBT dibungkus “kajian ilmu” supaya diterima karena seolah-olah ilmiah. Mereka yang tadinya awam, bingung dan galau menyikapi LGBT, diseret untuk menerimanya.

Menuju Sekulerisasi “Kafah”

Generasi muda saat ini memang masih setengah sekuler. Mengalami split personality.  Memiliki “kelamin” ganda. Di satu sisi mengaku muslim, di sisi lain segala pola pikir, perilaku dan tindak tanduknya jauh dari nilai-nilai islami. Islam hanya untuk ibadah ritual. Kadang juga dikenakan sebagai simbol-simbol semata. Bukankah tak sedikit kita temukan, perempuan berkerudung tapi merokok, pacaran, bahkan berzina?  Na’uzubillahi min zalik.

Kini semakin sulit membedakan mana yang benar-benar Islam dan mana yang bukan. Inilah yang terus menjadi sasaran Barat, bagaimana menjadikan generasi setengah-setengah ini menjadi kafah. Kafah sekulernya. Kafah liberalnya. Kafah kapitalisnya. Penerimaan terhadap LGBT menjadi salah satu tolok ukurnya.

Kampus dengan kalangan intelektual yang merupakan agen of change, jadi tempat strategis untuk mewujudkan sekulerisasi kafah ini. Mengapa? Karena 10 atau 20 tahun mendatang, para pemimpin bangsa akan diduduki oleh para mahasiswa yang saat ini masih menimba ilmu di kampus itu.

Merekalah yang kelak akan duduk di kursi pemerintahan. Merekalah yang akan menjadi pemangku kebijakan. Sementara para mahasiswinya, merekalah yang kelak akan menjadi para ibu, pelahir generasi penerus. Jika saat ini otak mereka sudah dicuci dengan sekulerisme kafah, sempurnalah sudah ideologi sekuler ini menjajah bangsa.

Kelak, bangsa yang mayoritas muslim ini, akan habis identitas kemuslimannya. Berubah jadi “Amerika” kedua. Sekarang saja, sekulerisasi dan liberalisasi  semakin merajalela. Jika tidak ada upaya terus menerus untuk mengembalikan kesadaran umat kepada Islam, niscaya Islam akan benar-benar tenggelam.

Tugas Aktivis Kampus

Saat ini, dunia hanya punya dua pilihan: sekuler atau Islam. Para intelektual kampus juga akan terpolar menjadi dua: sekuler kafah atau islam kafah. Jadi, persaingan antara kedua ideologi itu semakin nyata. Tak bisa dihindari, harus dihadapi. Sebab, sampai kapanpun, sekulerisme akan bertolak belakang dengan ideologi Islam.

Tentu kita tak rela kaum intelektual muda digiring menuju sekulerisme, baik setengah-setengah maupun kafah. Kita ingin Islam kafah. Maka tidak ada pilihan kecuali perang melawan sekulerisme. Ini menjadi pekerjaan rumah para aktivis kampus, tak terkecuali mahasiswi. Membersihkan dunia kampus dari benih-benih sekulerisme yang kian merajalela. Termasuk melalui propaganda LGBT-nya.

Terlebih, isu LGBT yang diusung gerakan Feminis ini begitu gencar menyasar kaum muslimah. Seperti salah satu penggiatnya, Irshad Manji yang giat roadshow membawa ide-ide lesbianisme ke pesantren-pesantren hingga kampus. Mungkin kader-kader penyeru LGBT seperti para aktivis SGRC UI itu salah satu hasilnya.

Merusak Keluarga

Di sisi lain, para aktivis Feminis saat ini juga masih terus berjuang menjebol Undang-undang Pernikahan agar diaborsi dari nilai-nilai Islam yang kental. Termasuk kelak, melegalkan pernikahan sejenis. Jika ini gol, institusi keluarga yang merupakan elemen mendasar dan terpenting dalam masyarakat akan hancur.

Keluarga tak lagi dimaknai sebagai hasil pernikahan suci dua hamba Allah beda jenis kelamin sesuai agama, untuk melestarikan keturunan. Keluarga hanya dimaknai sebatas komitmen dua anak manusia –tak peduli jenis kelaminnya– untuk hidup bersama, menghormati hak dan kewajiban masing-masing. Keluarga liberal yang serba bebas, bisa saling bertukar peran antara suami-istri, dan dibatasi hak dan kewajiban masing-masing. Ini melanggar aturan Sang Pencipta.

Tolak Keras

Jelaslah, eksistensi LGBT harus ditolak keras. Baik di lingkungan kampus atau di manapun di bumi Allah. Bahkan seharusnya dienyahkan. Satu-satunya cara paling efektif untuk melenyapkan LGBT adalah kembali pada Islam. Kembalikan ketakwaan individu pada Islam. Lalu terapkan Islam secara kafah, sehingga mencegah munculnya benih-benih LGBT. Karena, negara sekuler justru menjadi wadah tumbuh suburnya LGBT.

Sebaliknya, negara Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah akan mempersempit peluang munculnya LGBT, meluruskan jenis kelamin, memperkuat institusi keluarga dalam melestarikan keturunan dan melanggengkan peradaban mulia.(kholda)

#MediaUmat163
#BelajarNulis
foto: http://cdn.tmpo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here